Senin, 26 September 2016

Selasa dalam Pekan Biasa XXVI, 27 September 2016


Ayb 3: 1-3  +  Mzm 88  +  Luk 9: 51-56

 

 

 

Lectio

Pada suatu kali ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem,  dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?" Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

 

 

 

Meditatio

Pada suatu kali ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem,  dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Entah bagaimana memahami perikop ini; apa yang dimaksudkan dengan ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga? Berapa lama tenggang waktu dengan peristiwa kenaikanNya ke surga? Kalau memang berkaitan dengan peristiwa-dekat kenaikanNya ke  surga mengapa ditaruh pada aneka peristiwa pelayananNya? Mengapa tidak diletakkan pada akhir-akhir pelayananNya?  

Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya, tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Orang-orang Samaria menolak para murid dan Yesus sang Guru tentunya, karena memang pusat peribadatan mereka bukanlah di Yerusalem. Mereka beribadah dan menyembah Tuhan Allah yang dirasakan kehadiranNya di atas gunungnya yang kudus (Yoh 4), dan bukannya di Yerusalem. Di atas gunungNya yang kudus, Tuhan Allah hadir secara lebih nyata dan indah. Mereka menolak para murid, karena mereka berbeda sudut pandang dalam menghayati kehadiran Tuhan sang Empunya kehidupan.

Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: 'Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?'. Menolak kahadiran Yesus berarti menolak Tuhan Allah sendiri. Perlukah memang kita umat manusia membantu Tuhan menjernihkan persoalan ini? Kalau pelayanan kita saja, yang kita tujukan kepada orang-orang yang mapan dan berkuasa sebenarnya tidak berguna dan tak bermakna, apalagi kita mau menolong dan membela Tuhan? Bukankah orang-orang Samaria juga orang-orang yang berTuhan? Bukankah mereka juga mempunyai iman kepercayaan kepada Tuhan Allah?  Rupanya teguran Yesus kepada Yohanes yang pernah melarang seseorang yang mengadakan mukjizat dan pengusiran akan kuasa kegelapan, belum mengena dirinya. Mendengar permintaan mereka Ia berpaling dan menegor mereka. Bukankah Aku sudah berkata kepada kalian: barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu?

Kita memang tidak perlu membela Tuhan Yesus, malah kita memerlukan pembelaaan dan pertolonganNya. Pengenalan kita akan Allah adalah salah satu cara mengenal Dia sang Empunya kehidupan. Ada banyak cara dalam mengenal Allah. Kalau Allah saja memperhatikan setiap umatNya, pasti tentunya Allah menerima tanggapan dari umatNya yang berbeda satu dengan lainnya. Kalau Ayub menyesali kelahiran dan keberadaan dirinya (Ayb 3), tidaklah demikian dengan kasih Tuhan yang tetap memperhatikan umatNya. Perhatian dan kasih Tuhan tidak terbatas banyaknya rejeki dan anugerah yang diberikan Tuhan kepada seseorang.

 

 

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, kami ini seringkali salah mengerti. Kami begitu nafsu menolong Engkau, karena ulah teman-teman kami yang kami rasakan kurang santun terhadapMu. Semoga kami ini semakin berani menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang mampu melawan Engkau. Melawan Engkau berarti membuang keselamatan dari dalam dirinya sendiri. Amin.

 

 

 

Contemplatio

Orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem.