Jumat Biasa V, 12 Februari 2010

1Raj 11: 29-32 + Mzm 80 + Mrk 7: 31-37

· Ketika Yesus menyembuhkan orang yang bisu, ada sesuatu yang menarik: "Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: Efata!, artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik". Menarik! Karena Yesus memakai sebuah tindakan ritual untuk menyembuhkan orang bisu itu. Kenapa Yesus memakai ritual segala? Mengapa Ia harus memasukkan jariNya, meludah dan meraba si sakit itu? Bukankah Yesus bisa menyembuhkan orang dari jarak jauh seperti kemarin Yesus mengusir setan dari anak perempuan Siro-Fenesia itu? Apakah Yesus tidak bisa hanya dengan mengatakan efata?

· Apakah semua itu dilakukan untuk menarik perhatian banyak orang? Kami melihat semua itu dilakukan Yesus sebagai bentuk dialog dengan orang yang bersangkutan. Yang dihadapiNya adalah orang yang bisu dan tuli; komunikasi dengan dia pasti amat terbatas; tetapi dia dapat melihat dengan baik, maka Yesus membuat suatu tindakan agar dapat dilihat oleh orang itu, sehingga orang itu terlibat dalam karya penyembuhan itu sendiri. Orang yang disembuhkan itu diajak untuk ambil bagian dalam karya penyembuhan itu sendiri. Perempuan Siro-Fenesia kemarin diajak berdialog, berbicara, bahkan ditantang oleh Yesus dalam memperoleh penyembuhan daripadaNya. Allah menghendaki agar umatNya terlibat dalam karyaNya, Allah sepertinya tidak menghendaki mereka menerima dalam bentuk jadi, tanpa usaha. Manusia diundang dalam karya penyelamatanNya.

· "Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya". Entah apa maksud Yesus melarang mereka, apakah karena "waktuKu belum tiba"? Kemauan dan kehendak Tuhan memang sulit kita mengerti. Kemauan Tuhan memecah Israel menjadi dua bagian. 'Keterbatasan' Yesus Tuhan yang sungguh-sungguh menjadi manusia belum memahami rasa syukur umat manusia dalam berjumpa dengan kenyataan ilahi yang tidak pernah mereka alami, mereka sungguh-sungguh-sungguh kagum dan terpesona; yang seperti ini belum pernah terjadi. "Mereka takjub dan tercengang, dan berkata: Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata". Yang seperti ini memang belum pernah dialami oleh orang-orang jaman itu.

· Ketidaktaatan manusia terhadap sesamanya adalah kenyataan social yang selalu ada, apalagi kenyataan kepada Tuhan. Namun karena rahmat Allah, dari ketidaktaatan itulah mengalir suatu pengakuan yang baik dan benar, karena mereka menemukan sesuatu yang indah yang pernah dijumpai sebelumnya. Yesus hadir secara sengaja di tengah-tengah umat yang kepercayaanNya sedang mengalami kegoncangan, di mana mereka menghadapi aneka tuntutan dalam hidup religious dan social, yang pada dasarnya dipermainkan elite social seperti para imam, tua-tua bangsa Yahudi, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.

· Ya Tuhan Yesus, ajaklah kami dan ingatkan kami untuk setia mengikuti karya penyelamatanMu dalam diri sesame kami, dalam lingkungan social hidup kami dan aneka persitiwa hidup ini. Tuhan, berkatilah kami selalu, amin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening