Jumat Prapaskah, 19 Februari 2010

Yes 58: 1-9  +  Mzm 51  +  Mat 9: 14-15

 

·        "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?". Itulah pertanyaan orang-orang kepada Yesus. Jawab Yesus kepada mereka: "dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa". Hari Senin dan Kamis memang adalah kebiasaan orang-orang Yahudi berpuasa, dan pada waktu itu Yesus dan para muridNya tidak berpuasa. Mengapa?

·        Kemarin Rabu Abu, kita merenungkan bahwa bagi kita yang 'tidak sedang meninggalkan Allah, tidak meninggalkan Yesus', bertobat berarti berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, berusaha menempel pada Kristus. Kita berusaha mendekatkan diri, karena memang jujur saja, kita belum dekat dengan Dia, malahan kita sering menjauh daripadaNya, dan mengabaikan kehendakNya. Bagi orang yang sudah bersatu dan tinggal bersama Yesus, kiranya puasa sebagai ungkapan tobat itu tidak diperlukan lagi. Orang yang selalu melakukan kehendakNya dengan sepenuh hati dan hidup dalam Kristus, Sumber kehidupan tidak lagi melakukan laku tapa, karena ia ada dalam Yesus dan Yesus ada dalam dia. Yesus menegaskan tadi 'dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?'; mengapa mereka harus berpuasa, bukankah mereka bersama Yesus, bukankah para murid hidup bersama Tuhan Yesus?

·        Bagi orang yang jauh dari Tuhan, kita semua, sudah layak dan pantaslah kalau kita berusaha mendekatkan diri kepadaNya dengan berpuasa; sebab seperti kita renungkan kemarin berpuasa berarti berusaha melepaskan diri dari segala kungkungan insane kita untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Terlebih lagi, puasa dalam tradisi Gereja Katolik sebagai usaha umat beriman dalam merenungkan dan  merindukan untuk ikutserta dalam karya penyelamatan Kristus yang secara sadar dan mau : mati di kayu salib dan bangkit dari alam maut pada hari ketiga. Injil kemarin menegaskan : 'Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga'.

·        Berpuasa adalah usaha mendekatkan diri kepada Tuhan! Maka di waktu  berpuasa kita pun harus berani mendekatkan diri kepada sesame sebagai wujud nyata pendekatan diri kita kepada sang Empunya kehidupan. Bacaan pertama tadi tegas-tegas menyatakan: "berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri. Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah". Cinta kepada Tuhan tidak dapat dilepaskan dari cinta kepada sesame, demikian juga usaha mendekatkan diri kepada Tuhan, hendaknya kita imbangi dengan pendekatan dan keterbukaan kepada sesame.

·        Ya Tuhan Yesus, teguhkanlah hati kami dalam berpuasa, dalam usaha mendekatkan diri kepadaMu. Semoga kami menguatkan kemauan hati kami dengan berani semakin siap memperhatikan dan melayani sesame kami. Tuhan Yesus, bantulah kami, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening