Minggu Prapaskah II, 28 Februari 2010

Kej 15: 5-12.17-18  +  Fil 3: 17 – 4:1  +  Luk 9: 28-36

 

Musa dan Elia adalah dua tokoh besar dalam sejarah Israel! Semua orang tidak akan lupa akan peran mereka berdua. Musa dan Elia adalah pahlawan nasional, mereka berdua adalah nabi besar. Musa adalah nabi yang membebaskan dan mengantar umat Israel keluar dari Mesir. Elia adalah nabi yang dengan gagah berani melawan nabi-nabi palsu dan bahkan membinasakan mereka semua, sebab memang hanya Allah yang patut disembah dan dipuji semua orang. Mendengar suara mereka berdua saja sudah merasa bangga, karena merasa memiliki, apalagi sekarang ini boleh melihat mereka dan boleh berkumpul dengan mereka.

Ketika Petrus, Yohanes dan Yakobus 'melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya: dan kedua orang yang berdiri, yakni Musa dan Elia di dekat-Nya itu', betapa gembira dan bahagianya mereka. Inilah hidup yang sebenarnya, damai dan bahagia, penuh sukacita! Dan orang tidak ingin kebahagiaan dan kegembiraan itu segera selesai, orang tidak suka akan perpisahan, kemesraan ini jangalah cepat berlalu. Maka  ketika kedua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya: "Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia". Sekali lagi kemesraan ini janganlah berlalu, biarlah kalian semua tinggal di sini, kami siap mendirikan kemah untuk kalian semua! Kami siap membuatnya agar kami tinggal bersama kalian!

"Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia" jawaban yang mereka terima. Mereka tidak mendapatkan jawaban tentang pendirian kemah. Mereka mendapatkan penyataan agar mereka mendengarkan Dia, Dia yang adalah 'AnakKu'. Siapa yang berkata demikian? Dia yang sang EmpuNya Anak, yakni Bapa di surge yang mengutusNya.

Dengan tegas penyataan ini meminta bahwa tinggal bersama Dia, bersama Musa dan Elia akan mereka nikmati kembali kalau mereka berani mendengarkan Dia yang diutus, Dialah Yesus Kristus. Mendengarkan Yesus adalah prasyarat untuk boleh menikmati kebahagiaan surgawi, kebahagiaan para Kudus, sebagaimana di tampakkan dalam diri Musa dan Elia. Mendengarkan Yesus adalah prayarat mutlak untuk menikmati kebahagiaan dan sukacita ilahi; mendengarkan Yesus adalah suatu perjanjian sebagaimana bahasa yang digunakan dalam Perjanjian Lama seperti dalam bacaan pertama; kebahagian surgawi bersama Musa dan Elia akan kita nikmati, bila kita mendengarkan Dia yang telah diutusNya. Seperti Abraham percaya akan perjanjian dan melaksanakannya, demikian pula hendaknya kita percaya akan perjanjian atau persyaratan untuk menikmati kebahagian surgawi yakni dengan mendengarkan Dia sang Putra, mendengarkan sabda dan melaksanakannya.

Percaya kepada Dia yang diutusNya dan berani mendengarkan Dia adalah suatu sikap yang akan 'dihitung sebagai kebenaran oleh Allah'. Kepercayaan kita kepadaNya akan mendatangkan berkat.

Dan kepercayaan inilah yang kita latih secara khusus dalam perayaan prapaskah ini. Paulus membahasakan agar 'kita tetap dan semakin percaya kepadaNya' itu dengan mengatakan "hendaknya kita tetap teguh berdiri dalam Tuhan", tidak mudah putus asa dan patah hati, kita tetap diajak untuk tetap berharap dan berharap akan "Dia yang akan mengubah tubuh kita yang fana ini menjadi serupa dengan tubuhNya yang mulia, sesuai dengan kuasaNya yang dapat mengubah segala sesuatu kepada diriNya". Kenyataan kebahagian surgawi akan dinikmati oleh setiap orang yang telah mengalami perubahan dirinya, yakni tidak lagi memakai tubuh yang fana ini, melainkan telah menikmati tubuh kebangkitan, tubuh yang serupa dengan tubuhNya yang mulia. Tuhan, aku percaya kepadaMu, sebab Engkau pengharapanku.

Ya Yesus, kuatkanlah kami dalam percaya dan berharap kepadaMu. Ajarilah kami untuk mendengarkan Engkau dalam setiap langkah hidup kami agar kami boleh menikmati kebahagian surgawi. Yesus, bukalah telinga hati kami untuk mendengarkan suaraMu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening