Rabu Abu, 17 Februari 2010

Yoel 2: 12-18 + 2Kor 5: 20 – 6:2 + Mat 6: 1-6.16-18

· "Sekarang juga, demikianlah firman TUHAN, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia". Berbalik kepada Tuhan, inilah arti pertobatan. Saya bertobat berarti saya berbalik kepada Tuhan, kembali kepada Tuhan.

· Saya tidak pernah melarikan diri dari Tuhan, saya selalu berdoa dan mendengarkan sabdaNya, mengapa saya harus bertobat? Apalagi dalam bacaan kedua santo Paulus menasehatkan supaya "kita memberikan diri agar didamaikan dengan Allah". Saya tidak bertengkar dengan Tuhan, saya mengikuti kehendakNya; karena itu, mengapa saya harus berdamai dengan Allah, bertobat kepadaNya?

· Bagi orang yang berpaling dari Allah, meninggalkan Allah, mengabaikan Kristus, memang dia harus bertobat dan bertobat kepada Allah, kembali berbalik kepadaNya, karena memang Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Dia menghendaki semua orang selamat, maka kita layak dan seharusnya kembali berbalik kepadaNya. Namun bagi kita 'yang tidak berpaling dari Allah' harus tetap berani bertobat dan bertobat kepada Allah, karena kita mempunyai kecenderungan yang kuat untuk menyenangkan diri daripada berusaha mendapatkan dan menikmati keselamatan. Kecenderungan insane kita lebih kuat, keinginan 'daging ini lemah dan roh itu penurut', daripada keinginan kita untuk selamat. Karena memang keinginan daging lebih menarik daripada keinginan rohani. Ini wajar, ini nyata!

· Maka bertobat bagi 'orang yang tidak berpaling dari Allah' berarti berusaha semakin mendekatkan diri kepada Tuhan; mengikuti bahasa renungan Minggu kemarin, kita berusaha semakin menempelkan diri kepada Tuhan, hidup di dalam Dia dan membiarkan Dia Kristus hidup dalam diri kita, maka nabi Yoel tadi mengatakan 'koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu'. Mengoyakkan hati berarti membuka hati dan memberikan diri dikuasai oleh Allah Tuhan sendiri.

· "Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa". Berpuasa disebut sebagai salah satu tanda berbalik kepada Tuhan, karena dengan berpuasa kita berusaha untuk tidak terikat dengan makanan minuman dan kebiasaan yang sungguh-sungguh melekat dalam diri kita. Kelekatan kita terhadap makanan dan kebiasaan insane kita, tak jarang dapat mengalihkan perhatian kita kepada Tuhan; monomer-jauhkan Tuhan sebagai pilihan utama kita. Ingat Injil kemarin, Yesus mengingatkan para murid agar was-was terhadap ragi orang-orang Farisi dan Herodes, ternyata mereka malahan mempersalahkan diri karena merasa diri lupa membawa roti. Pikiran mereka sebatas makanan dan minuman. Berpuasa berarti berusaha untuk tidak melekatkan diri pada hal-hal insane dan hanya mengarahkan diri kepada Tuhan. Berpuasa bukanlah soal saya tidak makan dan saya tidak minum, berpuasa berarti mengendalikan diri dari kungkungan makanan minuman dan kebiasaan-kebiasaan insane yang memuaskan diri saja, seperti berlarut-larut di depan televise dan tidak disiplin waktu. Saya tidak mau diatur atau dikendalikan oleh mereka semuanya, sayalah yang harus mengendalikan mereka.

· Karena itu, berpuasa memerlukan keinginan diri yang kuat dan memahami sungguh makna berpuasa. Yesus dalam Injil menegaskan "apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi". Berpuasa berarti mengendalikan diri dari kungkungan makanan minuman dan kebiasaan-kebiasaan insane yang memuaskan diri saja, sehingga mampu mengutamakan kehendak Allah di atas segala-galanya. Yang menyelamatkan hidup manusia adalah kehendak Allah, dan bukanlah makanan dan minuman. Saya mau dikendalikan oleh Yang menyelamatkan, dan bukan sebaliknya. Dalam bahasa Injil hari ini berpuasa itu tidak mencari upah dari sesame manusia melainkan dari "Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu".

· Akibat nyata dari berpuasa ialah kita mengurangi atau tidak makan dan minum ataupun kebiasaan-kebiasaan insane. Berpuasa berarti kita mengurangi biaya hidup keseharian. Biaya hidup keseharian inilah yang kita berikan kepada orang lain dalam bentuk Aksi Puasa Pembangunan. APP bukanlah mengambil isi dompet yang ada.

· Taburan abu yang kita terima hari ini adalah melanjutkan tradisi kuno sebagai tanda tobat, sekedar tanda peringatan bahwa tubuh kita ini dibentuk dari tanah dan akan kembali kepada tanah; suatu pernyataan yang berarti penegasan akan keterbatasan, kerendahan dan kelemahan hidup kita manusia ini.

· Ya Tuhan Yesus, semoga kami dapat menggunakan hari-hari prapaskah ini untuk semakin kembali dan berbalik kepadaMu, sebab Engkaulah Penebus kami, Engkaulah Penyelamat kami. Tuhan, bantulah kami dalam mengkoyakan hati kami, amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening