Rabu Prapaskah I, 24 Februari 2010

Yun 3: 1-10 + Mzm 51 + Luk 11: 29-32

Kepada orang-orang yang mengerumuniNya, Yesus memberi komentar : "angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus". Jelas sekali pernyataan Yesus; karena kejahatan mereka, Yesus tidak akan memberi tanda, selain tanda nabi Yunus; jadi Yunus juga menjadi tanda bagi mereka, bukan hanya bagi orang-orang Niniwe. Pernyataan amat jelas.

Namun pada ayat berikutnya, Yesus menambahkan: "sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini". Pernyataan ini kebalikan dari pernyataan sebelumnya. Dalam pernyataan ini, Yesus sendiri akan menjadi tanda bagi angkatan yang jahat ini, seperti tanda nabi Yunus bagi orang-orang Niniwe, padahal sebelumnya dikatakan 'kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus'.

Mengapa secara literer dalam Injil ini sepertinya ada kesalahan terjemahan! Bisa saja terjadi, karena Injil juga tulisan manusia, apalagi terjemahannya! Semoga tidak, karena keterbatasan diri saya menangkapnya.

Namun ada baiknya, kita melihat adanya kesamaan unsur perutusan antara Yunus dan Yesus, yakni ajakan untuk bertobat dan bertobat; setiap orang harus berani bertobat! kalau ajakan Yunus saja membuat orang-orang Niniwe berani bertobat seperti diungkapkan dalam bacaan pertama tadi, apalagi sekarang! Yang mewartakan adalah Yesus, "yang ada di sini lebih besar daripada Yunus". 'Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat' adalah pewartaan awali Yesus. Dan memang ini sungguh nyata; tanpa merendahkan diri nabi Yunus: dia adalah seorang pendosa yang bertobat, ia berusaha melarikan diri dari perutusan Yahwe, dia ditelan hidup-hidup oleh ikan, dia adalah manusia biasa, namun dia bertobat dan mewartakan pertobatan. Sedangkan Nabi besar yang kita temui sekarang ini adalah pribadi utuh 'yang tidak mengenal dosa' seperti kita, Dia adalah Allah yang menjadi manusia; kata Petrus sebagaimana iman kita kepadaNya: 'Engkaulah Kristus Mesias, Putera Allah yang hidup'. Sudah layak dan sepantasnya kalau kita harus semakin berani mengikuti dan berserah diri kepadaNya, sebab memang 'yang ada di sini lebih besar dari Salomo, lebih besar daripada Yunus'.

Kiranya layaklah kita berseru dan berseru seperti Mazmur 51 tadi: "kasihanilah aku ya Allah, kasihanilah; bersihkanlah aku dari segala kesalahanku dan cucilah aku dari segala dosaku; sebab Engkau Mahaharim dan tidak menolak hati yang remuk redam". Tuhan Yesus, ajarilah kami dan bahkan 'paksalah' kami agar kami berani terus-menerus bertobat dan bertobat kepadaMu; Yesus, kami ingin selamat, amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening