Sabtu Prapaskah I, 27 Februari 2010

Ul  26: 16-19  +  Mzm 119  +  Mat 5: 43-46

 

"Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu" adalah sebuah rumusan hidup yang wajar dan kodrati dan berlaku untuk semua orang. Mengasihi sesame adalah suatu ajakan yang memang harus diusahakan dan diusahakan oleh setiap orang; demikian juga 'membenci musuh' adalah kenyataan hidup yang berlaku secara otamatis. Otomatis? Belumlah sampai pada istilah 'musuh', kepada mereka yang bersebrangan dan tidak sepaham dengan kita, ada kecenderungan kuat dalam diri kita dan bakan dalam diri setiap orang untuk mengabaikan dan kurang memberi perhatian kepada mereka. Inilah otomatisnya. Itu amat manusiawi!

"Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" ajak Yesus kepada para pengikutNya. Suatu ajaran baru, yang memang sebelumnya tidak biasa dilakukan atau berlawanan dengan kebiasaan kondrati kita. Kita sebut kodrati, karena memang kecenderungan diri kita akan secara otomatis menjauhi dan mengabaikan orang-orang yang tidak sepaham dengan kita. Ajakan Yesus ini meminta kita  untuk mendekati dia, menyapa dia, mengasihi dia dan berdoa baginya. Ini ajakanNya! Supaya "kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar".

Kita bangga menjadi anak-anak Bapa di surge; namun kebanggan itu tidak cukup hanya gelar atau sebutan melulu. Kebanggaan itu harus terungkap dengan melaksanakan dan mengikuti apa yang dilakukan Bapa sendiri. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna". Anak yang baik adalah dia yang melakukankan kehendak dan kemauan bapanya.

Dengan bangga menjadi anak-anak Bapa di surge,  sebenarnya orang hendak mau mengatakan bahwa ada sesuatu yang lebih dari dirinya dibanding orang lain. Aku berbeda dengan kamu. Aku mempunyai sesuatu yang indah, dan kamu belum mempunyainya. Maka Yesus mengingatkan kita dalam relasi dengan sesama: "apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?". Saya mengikuti Yesus karena ingin beroleh keselamatan, karena ingin hidup lebih baik; sebaliknya kalau tidak ingin hidup lebih baik, it's better atau dumenggan dan aluwung tidak mengikuti Dia.

Mengikuti dan menepati firman dan kehendak Tuhan adalah perintah yang sudah lama didengung-dengungkan sendiri oleh Tuhan, agar kita menjadi milikNya. Bacaan pertama dari Perjanjian Lama tadi pun telah mengingatkan: "TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. Ia pun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya".

Ya Tuhan Yesus, kami bangga menjadi putera-puteri Bapa di surge. Ajarilah kami untuk melaksanakan kehendakNya. Yesus, buatlah kami menjadi orang-orang yang setia kepadaMu, sehingga akhirnya kami menjadi orang-orang yang murah hati seperti Bapa di surge. Yesus, dampingilah kami selalu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening