Selasa Prapaskah I, 23 Februari 2010

Yes 55: 10-11 + Mzm 34 + Mat 6: 7-15

Yesus mengajarkan kepada para muridNya bagaimana harus berdoa. kataNya: bila kamu berdoa "janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya". Penegasan Yesus ini menyatakan bahwa keberhasilan doa tidaklah bergantung pada kemauan seseorang yang mengatakannya, tidak bergantung pada banyaknya kata-kata, melainkan pada kehendak Tuhan Bapa sendiri. Tuhan akan memberikan sesuatu yang menjadi kebutuhannya, asal saja menjadi 'keperluan' dia sungguh-sungguh, karena memang Tuhan tahu apa yang menjadi keperluan umatNya. Seringkali muncul keperluan kita yang emosional guna kepuasan diri. Kita tentunya ingat akan kasih orangtua yang 'sempat' membiarkan kita merengek-rengek bahkan sampai menangis dan menangis untuk meminta sesuatu yang ternyata tidak sesuai dengan kemauan mereka, yang memang bapa dan ibu kita itu tahu benar apa yang baik dan menyenangkan sang buah hatinya.

Yang mendasar juga dikatakan hendaknya kita jangan berdoa seperti orang yang tidak mengenal Allah, mereka meraba-raba tentang Allah, karena memang tidak mengenal siapakah dan bagaimana itu Allah. Penyataan Yesus mengingatkan kita orang-orang yang sudah mengenal Allah. Ia Mahakasih, Ia Mahamurah yang selalu memperhatikan umatNya. Bacaan pertama menggambarkan kasihNya yang luar biasa itu dengan mengatakan: "seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan". Sabda Tuhan, kehendakNya yang menyelamatkan itulah kasihNya yang mulia, yang menyerahkan nyawaNya bagi sahabat-sahabatNya. Secara khusus, kita kenangkan dalam masa tobat ini, sebab dalam masa prapaskah kita mengenangkan sengsara dan penderitaan sang Penyelamat yang menuju puncak kemuliaan di atas salib.

Akhirnya, doa Bapa Kami yang kita doakan setiap hari mengajak kita untuk semakin berani merindukan KerajaanNya yang mulia, yakni kehadiranNya sendiri. Datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di dalam surge. Membiarkan diri dikuasai oleh kasihNya berarti membiarkan kerajaan dan kehadiranNya tinggal dan menyelimuti hidup kita.

Ya Yesus, ajarilah kami untuk setia berdoa dan berdoa kepadaMu, sebab kami percaya Engkau sungguh memperhatikan kami, Engkau sungguh mencintai kami. Yesus, datanglah selalu dalam doa-doa kami, hiburlah kami selalu ya Yesus, amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening