Jumat Prapaskah II, 4 Maret 2010

Kej 37: 3-4.12-13.17-28  +  Mzm 105  +  Mat 21: 33-46

 

Perutusan dari Tuhan yang berbelaskasih yang diawali oleh para Nabi sampai kedatangan sang Putera digambarkan Yesus bagaikan sang pemilik kebun anggur yang ingin mendapatkan hasil kebunnya, namun kenyataan pahit yang diperolehnya. Langkah akhir adalah membinasakan semua pegawai kebun tadi dan mencari orang lain yang berani merawatnya. Semuanya itu akan diambil oleh sang pemilik kebun, sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci: "Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita". Ajaib, karena itu semua kemauan Tuhan sendiri untuk menerima orang-orang yang demikian adanya.

Semuanya itu adalah kehendak Tuhan, keselamatan yang diistimewakan untuk umat Israel diberikan kepada bangsa-bangsa lain yang menghendaki kehadiranNya, yang menanggapi kehendak Allah sendiri. Yesus menegaskan : "Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu".

Apakah penyataan itu hanya untuk umat Israel? Benar! Namun juga untuk kita semua kalau memang sekarang ini kita tidak menggunakan segala fasilitas keselamatan yang telah diberikan Yesus kepada kita. Dengan sabdaNya, Ia berbicara kepada kita, Ia menasehati, meneguhkan dan mengarahkan kita, sekaligus menegur kita, bila kita memang mulai keluar dari jalur kehendakNya. Ia bahkan juga memberikan bekal makanan rohani kepada kita setiap kali kita ikut bersama dalam EkaristiNya, kita disiapkan dan dikondisikan untuk terbiasa mengikuti perjamuan kudus bersamaNya kelak, demikian dengan sakramen-sakramen lainnya. Menerima Tubuh dan DarahNya berarti membiasakan diri menggunakan tubuh kebangkitan, TubuhNya sendiri.

Maka, kiranya masa Prapaskah ini mengajak kita untuk selalu berani menikmati kehadiranNya secara nyata dalam sabda dan sakramen-sakramenNya. Laku tapa, puasa dan pantang yang dianjurkan dalam tradisi Gereja sampai sekarang ini mengingatkan dan sekaligus mengajak kita untuk mampu mengendalikan diri dan pemurnian hati. Kasih bapa tidak melepaskan kita dari aneka kenyataan hidup yang menantang kita, seperti yang dialami Yusuf dalam bacaan pertama tadi. Kasih bapa membuat hubungan persaudaraan retak; yang sebenarnya memang bukanlah dikarenakan oleh kasih bapa, melainkan karena ketidakmampuan para saudara mengendalikan diri untuk 'melihat dan menyapa' sang adik bungsu yang mengalami kasih bapa secara khusus.

Yesus, semoga di masa Prapaskah ini kami Engkau ingatkan selalu akan fasilitas keselamatan yang telah Engkau berikan kepada kami. Semoga, kami setia mendengarkan sabda dan kehendakMu, dan selalu siap menerima kehadiranMu dalam komuni kudus. Tuhan berkatilah mereka yang tidak bisa setiap hari, bahkan tidak bisa setiap minggu menerima kehadiranMu dalam komuni kudus. Kuduskanlah mereka selalu dengan sabdaMu, amin .

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening