Kisah Sengsara

Yes 50: 4-7  +  Fil 2: 6-11   +  Luk 22: 14 – 23:56

 

Kisah sengsara Yesus diawali dengan sebuah perjamuan. Perjamuan itu seharusnya menyatukan, semua peserta perjamuan hendaknya mampu menahan diri, namun tidaklah demikian dengan perjamuan malam itu. Dalam perjamuan itu "mereka mempersoalkan, siapa di antara mereka yang akan berbuat demikian", dan bahkan "terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka". Kedatangan Yesus menggoncang tatanan social, termasuk di dalam persekutuanNya sendiri, yakni di tengah-tengah muridNya. Kiranya kejadian seperti ini yang masih sering muncul dalam Gereja paroki kita mengingatkan kita semua agar tetap berani setia melayani sesamanya.

Pada perjamuan malam itupun Yesus mengingatkan: "raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan". Semuanya ini telah dilakukan Yesus sendiri sejak semula, karena memang Yesus datang untuk memberikan diri untuk sesamaNya. Bacaan kedua tadi merefleksikan dengan mengatakan: "walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib".

Kehadiran yang memberikan diri 'sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib' itulah yang sekarang diungkapkan dalam peristiwa sengsara dan kematian. Semuanya itu dilakukan karena kemauan diri Allah yang mau memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang; kematian adalah pemberian diri, dan bukan sebagai akibat kedatangan yang membawa gejolak social, karena memang tidak diketemukan kesalahan untuk menghukum Dia. Sampai tiga kali Pilatus menegaskan : "aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya. Dan Herodes juga tidak, sebab ia mengirimkan Dia kembali kepada kami. Sesungguhnya tidak ada suatu apa pun yang dilakukan-Nya yang setimpal dengan hukuman mati". Yesus bukanlah seorang penyandang kasus yang memang layak dihukum!

"Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia!" teriak orang-orang, sebuah teriakan rakyat yang seringkali menyatakan suara rakyat itu 'suara Tuhan'. Namun tak dapat disangkal gerakan massal semacam itu, tindakan anarkis tak bisa dihindari, dan tindakan-tindakan semacam itulah yang kini sedang marak dan makin marak menghiasi keadaban kita.

Kisah sengsara semakin semarak dikarenakan ketidaktahuan banyak orang tentang siapakah Yesus itu sebenarnya; yang mereka ketahui adalah bahwa seseorang yang mendapatkan hukuman adalah orang yang memang layak dihukum, maka tak heran ketika mereka melihat Yesus sebagai orang terhukum mereka berteriak-teriak: "orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah", bahkan ada yang menuntut: "bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!".

Namun di tengah-tengah suara Tuhan tadi tetap ada suara yang sungguh-sungguh menyerukan jeritan orang kecil, yakni mereka yang mendambakan bantuan dan pertolonganNya. Orang kecil ada di mana-mana! Di tengah-tengah ejekan dan olokan, terdengar suara rintihan: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja", dan Yesus menjawab: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus". Yesus memberi jaminan yang membahagiakan kepada orang yang berani berseru-seru kepadaNya.

Ketidakbersalahan Yesus yang memberikan keselamatan dan menjadi tebusan bagi banyak orang ditampakkan secara inderawi dalam peristiwa kematianNya. Pada saat itu, "ketika hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar, dan tabir Bait Suci terbelah dua" dan saat itulah Yesus berseru: "ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku". Dan sesudah berkata demikian Yesus menyerahkan nyawa-Nya, menebus seluruh umat manusia yang dicintaiNya. Dan seseorang yang mampu melihat apa yang terjadi,  memuliakan Allah, dan ia memberi kesaksian: "sungguh, orang ini adalah orang benar!".

Ya Yesus, Engkau dipersalahkan oleh banyak orang karena kebaikanMu yang tidak mampu dirasakan mereka. Yesus, ingatkanlah kami agar kami juga tidak menuntut orang lain untuk memahami atau mengerti kami, malahan sebaliknya ajarilah kami terus berani melakukan yang baik dan berkenan kepada banyak orang, terlebih yang menyenangkan hatiMu sendiri. Yesus, bantulah kami untuk menyatukan segala usaha kami dalam kisah hidup dan sengsaraMu sendiri. Amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening