Mengenal Karmelit Awam dari dekat (2)

 

 

Karmel Awam adalah sekelompok umat beriman yang ada di beberapa paroki; mereka sebagai kelompok kategorial dalam sebuah paroki. Acara mereka secara rutin mengadakan pertemuan doa dua kali sebulan; prakteknya di paroki satu berbeda dengan lainnya, ada yang mengadakan pertemuan di ruang paroki, ada yang mengadakan pertemuan rutin di komunitas susteran, ada pula yang di rumah-rumah mereka sendiri secara bergiliran.

Mereka membentuk sebuah komunitas karena mereka bersama-sama mempunyai keinginan yang satu dan sama, yakni berusaha menghayati spiritualitas karmel. Spiritualitas yang seperti dihayati oleh para imam dan suster Karmel!    Bisa? Bisa!    Boleh? Boleh!      Mereka tidak menjadi biarawan atau biarawati, mereka adalah awam! Dari antara mereka ada bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan ada beberapa yang pasangan suami isteri, keduanya ikut sama-sama, kaum muda. Tidak ada halangan bagi mereka yang masih muda untuk memilih hidup sebagai keluarga, atau melangsungkan pernikahan dengan tetap setia menghayati spiritualitas Karmel. Karmelit awam adalah mereka yang memang awam, laki-laki atau perempuan dan kaum muda yang menghayati spiritualitas karmel dalam hidup sehari-hari.

Mereka berusaha menimba kharisma Karmel sebagai bekal dalam usaha untuk hidup sempurna sebagaimana Bapa di surga sempurna adanya; mereka berusaha untuk membiasakan diri hidup dalam doa, mereka berusaha untuk melihat kehadiran Allah dalam diri sesama dan dalam segala peristiwa kehidupan sehari-hari, dan sebaliknya juga berusaha melihat seperti Allah melihat, mereka berusaha hidup lebih baik karena memang didukung dengan hidup doa, mendengarkan sabda dan persaudaraan.

Jadi apakah mereka para karmelit awam adalah kumpulan orang-orang yang baik dan suci? Bukan!      Mereka adalah orang-orang berdosa, mereka juga belum menjadi orang-orang yang baik 100%. Mereka juga merasakan pengalaman jatuh bangun dalam kehidupan, mereka juga mengalami pasang surut dalam perjuangan hidup. Mereka karmelit awam bukanlah orang-orang suci! Sebaliknya, karena semua keterbatasan dan kelemahan hidup itulah mereka berusaha dan berusaha untuk hidup lebih baik, berusaha untuk hidup lebih sempurna dengan menghayati spiritualitas karmel.

Spiritualitas Karmel dalam kenyataannya berusaha menawarkan cara hidup yang berpusat pada Allah, menghayati cara hidup keseharian ini dengan berusaha mengutamakan kehendak Allah. Sebab semua orang yang dibaptis berjanji dan berusaha untuk 'mengasihi Allah lebih dari segala sesuatu, dan menolak setan dan semua godaannya'; dan dengan menghayati spiritualitas karmel, mereka diingatkan, disadarkan dan diperbaharui akan janji-janjinya itu. Semuanya itu mengajak setiap orang yang menghayatinya untuk menikmati hidup seperti Allah. Allah yang bagaimana? Allah yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, Allah yang menyerahkan nyawa dan menjadi tebusan bagi banyak orang.

Apakah hanya spiritualitas karmel yang mampu mengajak orang untuk hidup sempurna? Tidak! Ada banyak spiritualitas dalam hidup Gereja yang mengantar orang dalam mengejar kesempurnaan. Spiritualitas Karmel adalah salah satu spiritualitas dalam Gereja. Ada Ignasian, ada Vincentian, ada Fransiskan, ada Soverdian, ada Ursulin dsb, dsb.

Istilah Karmel muncul hanya mengingatkan akan asal-usul dan tempat dari orang-orang pertama yang menghayati hidup. Para karmelit awal adalah sekelompok orang yang tanpa komando siapapun datang dari Eropa dan berdiam di atas gunung Karmel. Tak ada seorang pemimpin, tidak ada seorang pendiri, mereka berkumpul bersama dan menghayati hidup persaudaraan dan doa. Mereka hanya meneladan Maria dalam mengikuti Kristus; mereka juga meniru Elia dalam tugas perutusan sebagai seorang nabi. Cara hidup mereka dan kebiasaan mereka sehari-hari inilah yang kemudian ditulis dan dirumuskan oleh Uskup Yerusalem dan dijadikan pedoman hidup untuk selanjutnya.

Cara hidup karmelit mengalami modifikasi di sana-sini setelah mereka pindah dan turun ke Eropa sekitar tahun 1240-an, dan mulai saat itu juga banyak kaum awam menggabungkan diri dengan para karmelit untuk menghayati spiritualitas yang sama. Kaum awam yang menggabungkan diri disebut sebagai ordo karmel ketiga, karena memang mereka mendapat pengakuan belakangan. Para karmelit awali yang konkritnya sekarang dilanjutkan oleh para imam dan biarawan karmel mereka disebut sebagai ordo pertama, karena mereka yang pertama kali diakui secara resmi dari otoritas Gereja. Pengakuan kedua diberikan kepada biarawati karmel. Ordo Karmel kedua adalah mereka para rubiah, yang menghayati hidup kontemplatif  murni (konkritnya adalah mereka para suster yang hidup hanya di dalam biara, tidak melakukan karya kerasulan keluar biara). Pengakuan ketiga diberikan kepada kaum awam yang menghayati spiritualitas karmel, juga kepada tarekat-tarekat karmel lainnya.

Ya Yesus, Engkau mengundang setiap orang untuk hidup sesuai dengan kehendakMu agar mereka sempurna seperti Bapa di surga. Bantulah mereka semua agar mulai menikmati kesempurnaan sekarang ini dalam hidup perjalanan ini yang kelak mencapai kepenuhannya dalam hidup bersamaMu di surga, amin

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening