Minggu Prapaskah III, 7 Maret 2010

Kel 3: 1-8.13-15  +  1Kor 10: 1-6.10-12  

Luk 13: 1-9

 

Mungkin Yesus mau dilibatkan dalam urusan sosio-politik dengan memberitahukan kepadaNya tentang pembunuhan sadis yang dilakukan Pilatus terhadap orang-orang Galilea. Mungkin Yesus mau menggerakkan orang-orangNya melawan Pilatus dengan bertitiktolak pada pembunuhan itu. Namun Yesus sadar betul akan jebakan sosio-politis itu. Ia bukan pahlawan nasional yang suka perang. Memang Yesus adalah seorang Pahlawan, tetapi Pahlawan bagi semua orang untuk mendapatkan keselamatan. Yesus adalah Mesias!

Dengan peristiwa itu Yesus malahan mengingatkan akan pentingnya pertobatan. "Sangkamu orang-orang Galilea, 'atau orang-orang yang ditimpa menara dekat Siloam' ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea dan Yerusalem yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?  Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian".

Pernyataan Yesus amat tegas: malapetaka, kecelakaan dan kesusahan, bahkan kematian yang 'mendadak dan mengagetkan', bila ada yang melihat begitu, itu tidak ada hubungannya dengan dosa! Tidak jarang malapetaka terjadi, karena hokum alam; kecerobohan manusia dalam memanfaatkan alam seringkali tidak memperhatikan hokum-hukum alam. Kurang pengendalian diri dalam menggunakan kendaraan bermotor atau karena hokum mekanik itu sendiri, tak jarang memunculkan kecelakaan dan petaka. Demikian juga tubuh manusia memerlukan perawatan kesehatan yang optimal; tubuh dan alam mempunyai relasi yang begitu akrab; apakah keakraban ini mengingatkan kita bahwa tubuh manusia berasal dari tanah dan akan kembali kepada tanah?

Yesus justru mengingatkan dan 'mengancam', yakni agar kita berani bertobat dan bertobat!  "Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian". Tidak disebutkan bagaimana caranya. Namun 'ancaman' itu hendaknya kita lihat sungguh-sungguh bahwa Yesus sangat-sangat mengharapkan agar setiap orang berani bertobat. Bertobat itu kewajiban! Karena memang bertobat adalah syarat mutlak untuk menikmati keselamatan! Bagaimana orang dapat mengalami keselamatan kalau memang keselamatan itu dilawan dan ditolaknya. Bagaimana orang mau hidup sehat dan bebas dari segala penyakit kalau memang dia sembarangan makan, tanpa batas dan tanpa henti, tiada perhatian akan aneka pantangan, kurang meng-olahrgakan diri. Mau sehat, orang harus memperhatikan tata kesehatan. Mau selamat, orang harus memperhatikan tata keselamatan.

Paulus dalam bacaan kedua juga mengingatkan kita agar pengalaman orang-orang Israel di padang gurun dahulu menjadi pagar batasan kita untuk selalu berani bertobat dan bertobat. "Sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun. Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat". Segala yang jahat memang berlawanan dengan keselamatan, sebab kejahatan itu membuat orang berputar-putar hanya pada dirinya sendiri. Bertobat mengajak orang mengarahkan pandangan hidupnya kepada Allah yang telah banyak berbuat kasih kepada setiap orang. Sejarah telah membuktikan semuanya itu. Paulus mengingatkan semuanya tadi itu dalam bacaan kedua; demikian juga bacaan pertama.

Yesus membuka tangan selebar-lebarnya bagi setiap orang untuk berani datang kepadaNya, kembali kepadaNya. Tidak bisa hari ini, besok atau lusa! "Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,  mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!". Pernyataan tukang kebun ini adalah pernyataan Tuhan sendiri yang selalu mengundang dan mengundang orang untuk datang kepadaNya.

Yesus Engkau sungguh sabar, padaMu ada kasih setia, dan penebusan berlimpah. Maka ingatkanlah kami selalu agar kami semakin hari semakin berani datang kepadaMu. Yesus sucikanlah hati kami agar kami siap merayakan Paskah yang menyelamatkan kami. Amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening