Minggu Prapaskah IV, 14 Maret 2010

Yos 5: 9-12  +  2Kor 5: 17-21 +  Luk 15: 1-3.11-32

 

Bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka". Suatu komentar yang ama-amat wajar. Karena apa? Karena memang mereka melihat suatu tindakan yang aneh dan sulit dimengerti. Semua orang sudah mengenal siapakah Yesus itu. Ia adalah seorang Guru, Ia adalah Pengajar yang penuh wibawa dan kuasa. Ia adalah orang yang baik dan suci. Namun  mengapa Ia harus bergaul dengan orang-orang berdosa? Tidak masuk akal!

Padahal dalam kitab Amsal jelas-jelas dikatakan 'jauhilah orang bebal' (Ams 14: 7), 'jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah' (Ams 22: 24). 'Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!' (Mzm 34: 15).  Bahkan Paulus dalam suratnya juga pernah menegaskan: hendaknya 'kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama (I Korintus  5: 9.11).

Dan kini dalam Injil hari ini Yesus secara terang-terangan bergaul bergaul dengan orang-orang berdosa, Ia makan bersama-sama mereka, Ia menerima para pendosa. Maka muncullah komentar sumbang, tetapi komentar itu memang benar adanya dan wajar.

Semuanya itu terungkap, karena memang orang-orang Farisi dan para ahli Taurat menggunakan konsep kemanusiaan sendiri, dan sering sebatas itulah memang kemampuan kita juga. Yang nama Yesus itu harus begini dan begitu. Yang namanya Yesus itu harus sesuai dengan gambaran kita.

Mereka lupa bahwa yang mereka lihat dan mereka jumpai ini adalah Yesus Mesias, Dia adalah Allah yang menjadi manusia. Agar dapat mengerti dan mengenal Dia dengan, setiap orang harus mau memahami Dia sebenarnya apa AdaNya, mengakui keberadaanNya, cara pikir dan sikapNya yang memang Yesus itu adalah Allah. Allah yang murah hati dan baik terhadap semua orang.

Allah yang baik dan penuh kasih itulah yang digambarkan oleh Injil hari ini sebagai seorang bapa yang menerima dengan tangan terbuka kehadiran seorang anaknya yang telah mencari kepuasan diri. "Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia". Gambaran yang sungguh-sungguh menegaskan bahwa semunya itu terjadi dari pihak Allah; 'ayahnya lari dan mendapatkan dia, merangkul dan menciumnya'. Bapa itu tidak menunggu anaknya mendekat, dia yang malahan mendekatinya; tidak cukup baginya untuk berjalan, malahan ia datang dan berlari!

Allah yang datang menjemput dan memeluk orang berdosa itulah yang dilakukan Yesus dalam Injil hari ini. Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka, karena memang Ia datang bukan untuk menghakimi melainkan untuk menyelamatkan.

Kebaikan dan kemurahan hati bapa inilah yang mengingatkan dan memanggil sang anak bungsu untuk berani kembali kepada ayahnya. Anak itu kembali ke rumah bapanya karena ia tahu dan sadar bahwa tinggal di rumah bapanya itu aman sejahtera. "Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan". Mengapa saya harus hidup sengsara seperti ini? Nasib orang yang jauh dari ayahnya, sengsara belaka. "Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa".

Anak itu telah mempunyai pengalaman hidup; dan kini ia ingin berdamai dengan bapanya. Inilah yang menjadi ajakan bagi kita di masa Prapaskah ini agar kita berani berdamai dengan Allah, berdamai dengan Yesus! Paulus sebagai Utusan Allah menasehati kita dalam bacaan kedua tadi: "berilah dirimu didamaikan dengan Allah".  Sebab memang Allah telah membuka tanganNya, telah datang dan lari menyambut kita, Allah Bapa "yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya".

Sikap orang-orang Farisi dan para ahli Kitab, juga banyak orang lain, yang hanya menggunakan konsep pemikiran diri sendiri itu digambarkan sebagai sikap anak sulung yang sulit menerima tindakan ayahnya. "Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia".

Ungkapan anak sulung ini adalah pernyataan diri seseorang yang merasa diri sudah baik dan banyak berjasa. Ini wajar dan lumrah! Sangat manusiawi! Orang yang telah berbuat baik atau tidak pernah melanggar aturan hidup, seringkali meminta penghormatan dan penghargaan; dia tidak mau dibiarkan, dia harus dihormati. Ini kebaikan insane! Tidak cukup sebagai bekal untuk bisa memahami dan bergaul dengan Allah. Anak sulung yang sudah berbuat baik, tetap diundang untuk berani datang kepada ayahnya dan bergembira bersamanya. Allah tetap mengundang dan mengundang setiap orang yang sudah merasa diri baik untuk berani mendekat kepadaNya. "Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali".

Yesus, perbaharuilah iman kami kepadaMu agar kami semakin hari semakin berani datang kembali, bermohon dan bermohon kepadaMu; perlebarlah kesadaran kami kepadaMu bahwa Engkau mahabaik dan penuh kasih. Yesus, kasihilah kami orang berdosa ini, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening