Rabu Prapaskah II, 3 Maret 2010

Yer 18: 18-20  +  Mzm 31  +  Mat 20: 17-28

 

"Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan" kata Yesus kepada para muridNya. Yesus sadar betul akan apa yang hendak terjadi pada diriNya. Kebangkitan merupakan akhir dari semua proses yang akan terjadi, tetapi peristiwa 'disesah dan disalibkan' sepertinya tidak bisa dihindari dan harus terjadi. Untuk mencapai kebangkitan dan kemuliaan, salib harus dipanggulNya dan bahkan Dia harus disalibkan.

Semuanya dilakukan Yesus karena memang kehadiranNya mewujudkan cinta Allah kepada umatNya. Ia datang bukan untuk mencari pujian atau penghormatan dan pengakuan atau dukungan dari manusia, Ia datang bukan untuk mencari dan meminta sesuatu dari manusia; Yesus malahan datang mau memberi suatu yang indah kepada umatNya, yang memang diharapkan dan dirindukan setiap orang. Yesus menegaskan: "Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang". Ia datang untuk menyelamatkan manusia, Ia menjadi kurban dan tebusan bagi umatNya.

Kita yang mengikutiNya juga diundang untuk meneladan Dia, meniru dan mengikuti apa yang telah dibuatNya. Dalam relasi dengan sesame, keseharian kita dalam hidup bersama, kita diajak untuk berani melayani dan melayani. "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu".

Ketika ditanya apakah mereka berani melayani, berani meminum cawan yang diminumNya, Yohanes dan Yakobus memberanikan diri dan siap sedia. "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya". Anugerah surgawi yang merupakan pemberian Bapa di surge 'tidak bisa kita paksa' datang dengan keberanian dan kebaikan kita, apalagi tentunya dalam pelayanan sesame, kita tidak akan mampu menarik hati orang untuk menerimanya semudah mungkin. Artinya, pelayanan dan pengabdian terhadap sesame harus menjadi pemberian diri sepenuhnya, tanpa mengharapkan imbalan atau balas jasa, malahan tak jarang 'susu dibalas dengan tuba'; dan itulah memang yang dialami oleh Yesus sendiri dalam seluruh hidupNya. Banyak orang kagum akan Yesus, karena Ia mengajar dengan penuh kuasa dan mengadakan mukjizat, tetapi Dia ditolak, disesah dan akhirnya dibunuh!

"Marilah kita mengadakan persepakatan terhadap Yeremia, sebab imam tidak akan kehabisan pengajaran, orang bijaksana tidak akan kehabisan nasihat dan nabi tidak akan kehabisan firman. Marilah kita memukul dia dengan bahasanya sendiri dan jangan memperhatikan setiap perkataannya!". Kenyataan seperti yang seringkali dihadapi dan diterima dalam penyampaian kabar sukacita.

Ya Yesus, semoga di masa Prapaskah ini kami semakin mampu merenungkan jalan salib kehidupanMu. Semoga kami bertahan dan setia dalam memanggul salib hidup kami yang jauh lebih ringan dan kecil daripada salib yang ada di pundakMu. Yesus, bantulah kami selalu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening