Rabu Prapaskah III, 10 Maret 2010

Ul 4: 1.5-9  +  Mzm 147  +  Mat 5: 17-19

 

Kedatangan Yesus membawa wacana baru dalam kehidupan beriman, terlebih bagi mereka yang amat menghormati dan berpegang teguh pada hokum Taurat. Ia membuka pikiran hati banyak orang. Contoh konkrit satu hal yang kita dengarkan dalam Injil kemarin dalam hal mengampuni kesalahan sesama. Yesus menegaskan: 'bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali', karena Bapa di surga mengampuni setiap orang tanpa memperhitungkan dosa dan kesalahan mereka sebelumnya. Tentunya kita pun ingat bagaimana Yesus memanfaatkan hari Sabat. Seringkali malahan Yesus 'melanggar' hari Sabat, dan bahkan Ia menantang orang-orang pada jamanNya, kata-Nya kepada mereka: "manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?". Tidak ada yang mampu menjawabNya, sebab memang 'Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat'.

Namun kiranya kita boleh bertanya apakah pembukaan wacana baru itu sebagai pelanggaran atas hari Sabat?  Perlawanan semacam ini sudah disadari Yesus sungguh-sungguh! Maka dalam Injil hari ini Yesus menyatakan : "janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi".

Yesus menegaskan hal ini dikarenakan memang hokum Taurat adalah kebanggaan bangsa Israel, suatu peraturan yang diberikan oleh Tuhan Allah sendiri. "Bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya? Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini?". Kebanggaan dan sukacita inilah yang diceritakan dan diagungkan dalam bacaan pertama tadi. Yesus tidak mengubah apa yang telah digariskan dalam Perjanjian Lama.

Di tempat lain Yesus menegaskan bahwa Dialah pengajar dan pelaksana hokum Taurat yang sejati, yakni ketika seseorang menanyakan intisari hokum Taurat. Ditanyakan: 'Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat? Jawab Yesus kepadanya: kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi'.

Yesus menegaskan hal ini kepada para muridNya karena memang Ia menghendaki dan memberi makna hidup baru ini yakni agar kita semua menjadi anak-anak Bapa di surga yang menerbitkan matahari dan memberi hujan bagi semua orang tanpa terkecuali. Hendaklah kamu sempurna seperti Bapa di surga sempurna AdaNya, tegas Yesus.

Ya Yesus, Engkau datang ke dunia untuk menyelamatkan kami. Engkau datang pun bukan ingin mengubah tata dunia yang sudah ada ini, Engkau malahan mengajak kami agar kami menyerupai Bapa di surga yang sempurna AdaNya. Maka bantulah kami ya Yesus, agar kami setia berusaha dan kedapatan setia sampai akhir hidup kami. Tuhan bantulah kami selalu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening