Sabtu Prapaskah II, 6 Maret 2010

Mik 7: 14-20  +  Mzm 103  +  Luk 15: 1-3.11-32

 

Bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka". Memang sulit dimengerti tindakan dan perbuatan Yesus yang bergaul dengan orang berdosa, Ia adalah seorang Guru, Ia adalah Pengajar yang penuh wibawa dan kuasa. Ia adalah orang yang baik dan suci, mengapa harus bergaul dengan orang-orang berdosa? Tidak masuk akal!

Komentar itu memang benar adanya. Karena memang kita menggunakan konsep kemanusiaan kita, sebatas itulah memang kemampuan kita. Namun hendaknya kita tidak lupa bahwa yang kita lihat dan kita jumpai ini adalah Yesus Mesias, Dia adalah Allah yang menjadi manusia. Maka kita dapat mengerti dan mengenal Dia dengan baik kalau kita mau memahami Dia sebenarnya, mengakui keberadaanNya, cara pikir dan sikapNya yang memang adalah Allah. Allah yang murah hati dan baik terhadap semua orang. Allah yang baik dan penuh kasih itulah yang digambarkan dalam diri seorang bapa yang menerima dengan tangan terbuka kehadiran anaknya yang telah mencari kepuasan diri. "Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia". Gambaran yang sungguh menegaskan bahwa situasi itu terjadi karena memang kehendak dan kemauan Allah, 'ayahnya lari dan mendapatkan dia, merangkul dan menciumnya'. Suatu sikap yang memang mau menerima kembali anaknya yang hilang itu; ia tidak cukup untuk berjalan, tetapi ia datang dan berlari, karena kemauan untuk menerima anaknya kembali sangatlah kuat.

Sikap orang-orang Farisi dan banyak orang lain yang hanya menggunakan konsep pemikiran diri sendiri itu diungkapkan dalam sikap anak sulung yang sulit menerima tindakan ayahnya. "Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia", kata anak sulung itu.

Ungkapan anak sulung ini adalah memang ungkapan diri seseorang yang merasa diri sudah baik dan banyak berjasa. Ini wajar dan lumrah! Sangat manusiawi! Orang yang telah berbuat baik atau tidak pernah melanggar aturan hidup, sudah layak mendapat penghormatan dan penghargaan; bukan dibiarkan. Kebaikan insane! Tidak cukup untuk bisa memahami dan bergaul dengan Allah. Allah mengundang kita untuk bersikap seperti Dia yang murah hati AdaNya. Bapak itu mengajak anaknya yang sulung: "anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali".

Keberanian anak untuk pulang ke rumah bapanya kiranya juga harus menjadi keberanian semua orang yang telah dan pernah mengalami kasih Allah. Anak itu kembali ke rumah bapanya karena ia tahu dan sadar bahwa tinggal di rumahnya akan aman sejahtera. "Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan". Mengapa saya harus hidup sengsara seperti ini? Nasib orang yang jauh dari ayahnya, sengsara belaka. "Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa". Suatu sikap tobat yang menyerahkan diri karena kesadaran bahwa Bapa itu sungguh baik hati, Ia mau menerima semua orang yang datang kepadaNya. Sikap tobat  berarti berbalik kembali kepada Allah, karena memang Allah itu mahabaik dan murah hati.

Ya Tuhan Allah kami, "siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut".

Yesus, perbaharuilah iman kami kepadaMu agar kami semakin hari semakin berani datang kembali, bermohon dan bermohon kepadaMu; perlebarlah kesadaran kami kepadaMu bahwa Engkau mahabaik dan penuh kasih. Yesus, kasihilah kami orang berdosa ini, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening