Selasa Prapaskah III, 9 Maret 2010

Dan 3: 34-43  +  Mzm 25  +  Mat 18: 21-35

 

"Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?". Suatu pertanyaan yang konkrit dan nyata! Apalagi kalau dikaitkan dengan angka tujuh, kemauan baik untuk memaafkan amatlah patut dipuji dan dibanggakan.

Dalam Perjanjian Lama pernah ditegaskan, Tuhan sendiri yang menegaskan: "jikalau hidupmu tetap bertentangan dengan Daku dan kamu tidak mau mendengarkan Daku, maka Aku akan makin menambah hukuman atasmu sampai tujuh kali lipat setimpal dengan dosamu" (Im 26: 21). Allah tidak segan-segan menghukum orang-orang yang melawan Dia dan tidak mau mendengarkan Dia, tujuh kali lipat perlawanan dia. Dosa harus dibalas dengan hukuman! Tidak disebutkan memang dosa perlawanan yang bagaimana, minimal tidak mau mendengarkan Tuhan Allah, seseorang patut dihukum.

Demikian bila orang menyalahi orang lain sesamanya, misalnya mencuri, ia harus dihukum atau didenda. Bagi seorang pencuri, "kalau ia tertangkap, haruslah ia membayar kembali tujuh kali lipat, segenap harta isi rumahnya harus diserahkan" (Ams 6: 31).

Jadi pertanyaan para murid tadi amat wajar dan mempunyai landasan kuat dalam tradisi Perjanjian Lama. Pelipatgandaan sampai tujuh kali bisa terjadi dalam hal berkat ataupun hukuman.

Namun ketika mendengar pertanyaan tadi Yesus menegaskan: "Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali". Orang diajak untuk berani mengampuni dan mengampuni, bagaimanapun besar dosa dan kesalahan orang, seorang sahabat harus berani memaafkan dan mengampuni sesamanya. Perumpaan tentang raja yang berbelaskasih menunjukkan sikap yang benar dan penuh kasih terhadap sesame. Inilah sikap pengampunan yang penuh belaskasih, yang tidak memperhitungkan kesalahan dan dosa orang lain. Yesus mengundang setiap orang untuk berani mengampuni dan mengampuni seperti Bapa di surge yang penuh belaskasih.

Dan dalam kenyataannya, Bapa selalu mengampuni dan mengampuni kita umatNya bila kita berbuat dosa. Namun Bapa tidak enggan-enggan berbalik menghukum kita, bila kita tidak mau mengampuni dan memaafkan sesame. Tegas Yesus seperti dalam cerita perumpaan tadi: "Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu".

Bisakah kita mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita? Orang yang mampu melihat wajah Allah yang maha Pengampun dalam diri sesamanya, dia pasti akan selalu siap mengampuni sesamanya, demikian juga orang yang merasakan kasih Tuhan dalam hidupnya akan mudah juga dalam mengampuni sesamanya. Keyakinan kita akan Tuhan yang berbelaskasih juga meneguhkan setiap orang untuk selalu kembali kepada Allah dan mengampuni sesamanya. Keyakinan itulah yang diungkapkan dalam bacaan pertama tadi.  Kami yakin bahwa "tidak dikecewakanlah mereka yang percaya pada-Mu. Kini kami mengikuti Engkau dengan segenap jiwa dan dengan takut kepada-Mu, dan wajah-Mu kami cari. Janganlah kami Kaupermalukan, melainkan perlakukankanlah kami sesuai dengan kemurahan-Mu dan menurut besarnya belas kasihan-Mu. Lepaskanlah kami sesuai dengan perbuatan-Mu yang ajaib, dan nyatakanlah kemuliaan nama-Mu, ya Tuhan".

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk mudah mengampuni sesame kami, sebab menahan dosa dan kesalahan sesame akan menambah beban diri kami sendiri, kami akan mudah marah dan kurang ceria dalam pergaulan dengan sesame. Yesus, buatlah kami murah hati selalu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening