Selasa Prapaskah IV, 16 Maret 2010

Yeh 47: 1-9 +  Mzm 46  +  Yoh 5: 1-16

 

Kepercayaan akan kekuatan alam amatlah kuat dalam diri banyak orang, apalagi dikait-kaitkan dengan kekuatan ilahi yang selalu menunjukkan kemurahanhati mengagumkan dan mengagetkan kepada mereka yang mengalami bencana dan kesulitan. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, banyak orang beranggapan bila "sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya". Banyak orang percaya dan beroleh kesembuhan. Itu fakta! Dana banyak peristiwa demikian itu.

Apakah kaitannya dengan gambaran air yang melimpah dari dalam bait Allah yang dilukiskan dalam bacaan pertama tadi. Aliran air itu sungguh-sungguh menghidupkan! Apakah kepercayaan orang-orang yang dekat pintu gerbang domba itu berlandaskan pada nubuat Yeheskiel tadi? Tidak jelas. Namun kepercayaan dan keyakinan bahwa ada sesuatu kekuatan hidup yang terpancar dan mengalir dari rumah Tuhan, bait Allah tidaklah boleh disangkal. Dari tempat kehadiranNya yang istimewa mengalirlah kehidupan dan berkatNya. Bagaimana dengan perasaan kita sepulang dari gereja tempat kita bertemu dan mendengarkan Dia?

Karena kondisi pribadi dan social, tak jarang seseorang tak bisa lepas dari aneka kesulitan dan kesusahan. Contoh konkrit orang yang lumpuh ini tadi. Dia tidak segera mendapatkan kesembuhan karena kondisi pribadi dan kondisi social. Kondisi pribadi memang amat sulit mengjangkau kolam yang sewaktu-waktu bergoyang untuk mendapatkan kesembuhan. Namun mengapa tidak ada orang yang rela dan berinisiatif mengangkat dia dan menceburkan ke dalam kolam? Tidak adakah aturan main yang menjaga ketertiban dan keadilan social, sehingga banyak orang bisa menikmati? Atau mungkinkah orang ini mempersulit dirinya sendiri sehingga orang lain enggan untuk mendekat? Dalam proses penyembuhan, keluarga dan kerabat mempunyai 'hak untuk memaksa' seseorang untuk mengalami kesembuhan.

"Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah" kata Yesus kepada orang itu, dan orang itupun sembuh. Rasa sukacita membuat dia lupa akan segalanya. Sepertinya ia tidak mengucapkan terimakasih, ia langsung menghilang ke sana ke mari, walau dalam Injil diceritakan Yesus yang menghilang dari keramaian; dia lupa kepada siapa yang menyembuhkan, ia tidak tahu siapa yang menyembuhkan. Ia tidak mau bertanya! Ada kemiripan dengan sembilan orang kusta yang disembuhkan namun juga tidak menampakkan kembali dirinya kepada Yesus (lih Luk 17: 12-19). Eforia memang bisa membuat orang lupa diri.

"Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk" tegur Yesus pada orang itu. Seperti Injil beberapa minggu yang lalu, yang menegaskan bahwa tidak ada hubungan antara dosa dan sakit. Hanya saja 'jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian'. Bertobat adalah keharusan bagi setiap orang agar beroleh keselamatan. Dosa membuat orang tidak nyaman hidupnya, karena hendaknya tidak 'berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk'.

Kalau "orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat", bukanlah hal baru, karena memang sudah beberapa kali Dia hadapi. Mereka tidak berani menangkap Yesus karena banyak orang percaya bahwa Yesus adalah Nabi, dan terlebih-lebih karena 'waktuNya belum tiba'.

Ya Yesus, ajarilah kami untuk selalu berani berikhtiar dalam hidup ini agar kami tidak terkungkung dalam kesulitan hidup, terlebih dari kuasa dosa. Yesus, buatlah kami untuk selalu mudah berterimakasih kepadaMu, dan tidak lupa akan kenyataan hidup dalam kasihMu itu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening