Senin dalam Pekan Suci, 29 Maret 2010

Yes 42: 1-7  +  Mzm 27  +  Yoh 12: 1-11

 

Waktu kunjunganNya ke keluarga Betania, "Maria, saudari Marta dan Lazarus  mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu". Ada yang memprotesnya memang, apakah hal itu bukan sebagai tindak pemborosan?

Mungkin saja! Namun sepertinya tidak menjadi perhatian Yesus, malahan membiarkan Maria bertindak demikian, sebab ada sesuatu yang lebih penting lagi daripada tindakan itu sendiri; apakah boleh diartikan bahwa: harta benda masih bisa dicari dan didapat lagi, bahkan perlu dikorbankan demi tindakan yang lebih luhur dan mulia? Bukankah hidup tidak bergantung pada harta benda? Ada sesuatu yang lebih penting, karena memang akan terjadi hanya satu kali; apa itu?

Yesus menegaskan: "biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku". Yesus menyatakan bahwa Dia memang akan menghadapi sebuah peristiwa yang paling pahit, yakni kematian; kematian yang luar biasa dan bukan seperti biasanya, maka apa yang dilakukan Maria sekarang ini adalah suatu tindakan yang baik dan benar untuk ambilserta dalam kematianNya.  Maria diijinkan bertindak demikian karena nampaknya Maria merasakan apa yang akan dialami Yesus nanti, ia tidak bisa berbuat banyak untuk menanggapi peristiwa itu; apakah juga yang dilakukan Maria ini sebagai ungkapan kasih dan perhatian yang diberikan kepada Yesus, sebagaimana perhatianya selama ini dengan duduk berdiam mendengarkan Dia?

Lebih jauh lagi, sebagaimana Maria telah memberi contoh dan memberi perhatian utama kepada diriNya, Yesus menghendaki agar segala tindakan baik, segala bentuk kesalehan, segala usaha layan-sosial hendaknya mengacu atau bermotivkan pada pelayanan kepada Dia sang Empunya kehidupan.  Segala bentuk layan-social itu baik adanya, tetapi akan semakin berarti bila terarah kepadaNya. Dalam arti inilah kiranya penyataan Yesus ini: "orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu" harus kita mengerti. Sungguh mulia, bila kita dapat memberi perhatian kepada seseorang karena memang kita melihat kehadiran sang Ilahi dalam diri orang terebut, sebab 'apa yang kau lakukan untuk saudaraKu yang paling hina ini, engkau lakukan sendiri untuk Aku'.

Di akhir kunjunganNya ternyata muncul tantangan yang amat serius: Lazarus pun akan dibunuh. Dikatakan tadi: "lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus". Kunjungan Tuhan Yesus sepertinya tidak selalu happy-ending. Kehadiran Tuhan memang selalu membawa berkat, tetapi tidak membebaskan seseorang dari hujan dan terik panas matahari, apalagi dari pertemanan dalam relasi social, karena memang masing-masing orang berbeda dalam menghadapi persoalan yang satu dan sama. Maria, Marta dan Lazarus tentunya amat bergembira menerima kehadiran sang Kehidupan, namun tak dapat disangkal mereka menerima tantangan baru dalam kehidupan mereka. Terik panas matahari yang satu dan sama dirasakan berbeda oleh satu orang dan orang lainnya; gunung Kawi tidak sama dipandang indah oleh mereka yang sama-sama tinggal di satu daerah, karena daya mampu-seni yang beda dari satu orang dengan yang lain, apalagi bagi mereka yang berdomisili di Malang atau mereka yang ada di Kediri.

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami selalu mengingat Engkau dalam setiap langkah dan usaha kami, dan kami mohon teguhkalah hati kami, agar kami selalu berani mengutamakan Engkau di atas segalanya. Yesus, berkatilah kami selalu yang lemah ini, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening