Jumat Paskah II, 16 April 2010

Kis 5: 34-42  +  Mzm 27  +  Yoh 6: 1-15

 

Banyak orang mengikuti Yesus dan mengerumuni Dia.  Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "dimanakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?". Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.

Sepertinya Yesus 'mencobai' muridNya hanya untuk memperlihatkan keterbatasan diri seseorang, kebertangungjawaban seorang pribadi dan reaksi mereka selama ini yang selalu bergaul bersamaNya, sejauhmana pengenalan mereka kepadanya dan sejauhmana mereka berani bertanya, meminta dan menyerahkan diri kepadaNya, bukankah mereka sehari-hari berkumpul denganNya.

Jawab Filipus kepada-Nya: "roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja". "Suruhlah orang-orang itu duduk" pinta Yesus. Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah kenyang, mereka pun mengumpulkan roti, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan.

Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia". Sungguh benar pilihan mereka, karena Dia itu segalanya. Inilah saat Yesus menampakkan diri siapakah Dia sebenarnya: Dialah yang berkuasa dan mampu membuat segalanya baik adanya. Namun "Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri". Yesus sungguh tahu apa kemauan umatNya yang ternyata tidak sesuai dengan kemauan Bapa yang mengutusNya, maksud baik umatNya tidak selalu sesuai dengan maksud dan kehendak Allah, maka Dia tidak memperhatikannya, bahkan menyingkir dari mereka semua.

Kiranya menjadi refleksi bagi kita untuk selalu berani menanyakan dan menyatukan kemauan baik kita dalam berkarya dan berusaha, terlebih bila menyangkut hidup bersama. Tuhan pasti tahu dengan tepat dan benar apa yang baik bagi umatNya, terlebih yang mengantar kita ke hidup yang benar, sedangkan kita manusia sangatlah terbatas akan kepentingan diri yang sesaat itu. Kiranya doa-doa penyerahan diri akan membantu kita dalam meletakkan segala kemauan baik kita di hadapanNya. Melakukan pekerjaan yang sudah diridhoi Allah akan menghasilkan berkat dan menyenangkan hidup.

Kalau kemauan baik kita saja belum tentu baik di hadapanNya, apalagi perlawanan dan penolakan kita akan kehendakNya; bacaan pertama meneguhkan semuanya ini: kata Gamaliel "janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah".

Ya Yesus, buatlah hati kami merunduk di hadapanMu, buatlah agar kami juga berani bertanya kepadaMu apakah perbuatan, tindakan dan rencana kami ini berkenan kepadaMu atau tidak, sehingga akhirnya kami dapat bertindak dan benar di hadapanMu dan pekerjaan itu menyelamatkan hidup kami. Tuhan Yesus, berkatilah kami dengan Roh KudusMu agar kami dapat mengerti dengan tepat dan benar kehendakMu bagi kami, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening