MALAM PASKAH

3 April 2010

Kel 14:15-31 + Rom 6: 3-11 + Luk 24: 1-12



"Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus". Pemberani sungguh perempuan-perempuan ini, di pagi-pagi hari mereka sudah berangkat ke makam untuk merempahi jenazah Yesus. Mengapa pagi-pagi kali? Mungkin supaya tidak diketahui banyak orang, terlebih pasukan tentara; bukankah kematian Yesus amat controversial. Yang sungguh menarik bahwasannya tidak ada perasaan takut sama sekali dalam diri mereka, baik sekitar peristiwa kematian itu sendiri atau terhadap situasi social-politis pada saat itu. Mereka sungguh-sungguh perempuan-perempuan pemberani! Perasaan hormat dan cinta kepada Dia yang menyerahkan nyawaNya tentunya menyemangati mereka semua.

"Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan. Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala". Baru saat itulah mereka ketakutan, tetapi lihat: yang dimaksudkan ketakutan di sini adalah rasa kaget, terkejut, rasa hormat dan kagum akan kehadiran seorang tamu yang agung dan penuh kuasa, karena itu mereka menundukkan kepala. Siapa kedua orang yang berpakaian berkilau-kilauan? Lukas selalu menggambarkan kehadiran yang Ilahi dengan bahasa seperti itu. Dalam penampakan kemuliaan, ketika Yesus 'sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia' (Luk 9: 29-30).

Pagi itulah kedua orang itu berkata kepada mereka: "mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga".

Perempuan-perempuan ini benar-benar disentak dan mereka diingatkan akan apa yang telah dikatakan Yesus jauh-jauh sebelumnya, karena memang Yesus telah menegaskan misi perutusanNya itu sampai tiga kali. SabdaNya : 'Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga' (Luk 9: 22.44; 18: 32-33). Di hari ketiga inilah Yesus bangkit dari alam maut menebus seluruh umat manusia dari maut agar mereka semua hidup dalam keselamatan abadi, hidup di dalam Dia sendiri. Ia tidak tenggelam dalam dunia orang mati, karena memang 'Ia hanya menyerahkan nyawa' demi keselamatan umat manusia, Ia turun ke alam maut untuk mengangkat manusia ciptaanNya dari sana dan menempatkannya dalam kemuliaan bersamaNya. 'Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit'.

Inilah yang perlu kita syukuri bahwasannya Yesus bangkit dari alam maut untuk menyelamatkan kita. Ia bangkit dari alam maut bukan untuk diriNya sendiri, Ia menjadi tebusan bagi semua orang dan ciptaanNya, tanpa terkecuali, terlebih mereka yang mau percaya dan berserah diri kepada sang Empunya kehidupan ini, karena mereka mau menikmatiNya. Inilah yang perlu kita banggakan, karena kita telah percaya dan berserah diri kepadaNya, kita ingin mengalamiNya. Paulus dalam epistola tadi mengingatkan bahwa "kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya".

Kiranya perayaan Ekaristi malam hari ini menguatkan iman dan harapan kita, dan meberi kepastian bahwa kita boleh bangkit dan hidup bersama Kristus sendiri, karena Yesus pun menghendaki 'agar di mana Aku berada di situpun mereka ada, mereka bersama Aku'. Kiranya perayaan syukur mala mini menyegarkan rahmat kebangkitan yang kita terima semenjak kita menyatukan diri dalam sakramen baptisNya.

Yesus, teguhkanlah iman kami kepadaMu. Amin.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening