Minggu Paskah V, 2 Mei 2010

Kis 14: 21-27  +  Why 21: 1-5  +  Yoh 13: 31-35

 

"Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera", kata Yesus. Semua yang dikatakan Yesus ini menunjukkan bahwa Dia ada dalam Bapa, dan Bapa ada dalam Dia; Bapa dan Dia adalah satu; kita dapat lihat kembali Injil kemarin Sabtu. Mempermuliakan Yesus berarti mempermuliakan Allah yang mengutusNya.

Injil  hari ini sepertinya ditampilkan kembali di masa Paskah ini. Bukankah Injil ini tepat dinyatakan pada saat Prapaskah? Benar memang. Tapi tidak dapat disangkal, Prapaskah dan Paskah adalah satu kesatuan, atau kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Yesus dimuliakan bukan saja pada waktu kebangkitanNya, ketika Ia terpaku di kayu salib pada saat itulah Dia ditinggikan dan dimuliakan, dan pada saat itulah juga Allah dipermuliakan. Kematian dan kebangkitan Kristus adalah pusat dan puncak karya keselamatan Allah, dan karya keselamatan ini akan terus dilanjutkan oleh mereka yang diutusNya dan mereka yang percaya kepadaNya.

Karena itu, salah satu bukti mereka yang percaya kepadaNya itu melanjutkan karya pelayananNya yakni kalau mereka saling mengasihi satu sama lain. "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi". Saling  mengasihi satu sama lain adalah kasih persaudaraan.

Kasih persaudaraan? Apakah bentuk kasih yang lain? Mungkin sekedar sebutan saja dalam konteks renungan  hari ini, sebab kasih itu harus melihat sesame sebagai saudara. Dan 'saling mengasihi' itu menunjukkan adanya relasi timbal balik dan komunikasi dialogis, sedikit mengesampingkan pelayanan yang karitatif dan interklas. Kasih persaudaraan itu tampak nyata dan terbukti bila kita berani membatasi diri dalam komunitas: komunitas keluarga, komunitas kategorial, dan komunitas lingkungan gerejani ataupun social.

"Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi". Sebagaimana Yesus telah mengasihi kita, hendaknya kita saling mengasihi. Sebab hanya karena kasih, Allah menyelamatkan; sebab hanya karena kasih, ada komunikasi, kedamaian, keadilan dan kesejahteraan; tanpa kasih ada perkelahian dan peperangan, ada korupsi dan perceraian, ada kemiskinan dan ketidakadilan, tanpa kasih ada kebinasaan!

Kasih persaudaraan sejati berasal dan tumbuh dari komunitas di mana kita tinggal: komunitas keluarga, komunitas kategorial, dan komunitas lingkungan gerejani ataupun social. Dalam komunitas keluarga kiranya terjalin kasih yang mesra antara suami-isteri dan anak: suatu kepalsuan terjadi bila seseorang anggota keluarga dengan mudah melempar senyum kepada orang lain, sebaliknya pedih hatinya ketika harus berjumpa dengan suami, isteri ataupun anak-anaknya, padahal dia tinggal dan anggota dari keluarga!

Dalam komunitas kategorial: ada seorang anggota PJC (Pagi Jalan Club = di pagi hari ke mana pun pergi harus jalan kaki) yang amat bangga dengan clubnya, di mana-mana dia selalu memamerkan dan membawa bendera PJC, segala-galanya bewarna PJC, sebaliknya di dalam club dia tidak pernah memberi peneguhan dan dukungan kepada sesame anggota PJC, ia malahan sering berteriak-teriak dalam clubnya guna memaksakan pendapat dan kemauannya! Bagaimana hal itu bisa terjadi dan kiranya perlu terus-menerus dipertanyakan: bila club yang diikutinya bewarna religious ataupun social? Bila berwarna politik, apa memang harus kuat berteriak?

Dalam komunitas gerejani: pernah diberitakan seorang pendoa dan pandai dalam membawakan firman, ia sering diundang oleh pelbagai komunitas untuk menyampaikan kesaksian, tetapi sebaliknya doa bersama dengan umat sekitarnya di lingkungan di mana dia berdomisili, dia tidak merasakan kehadiran sang Ilahi sama sekali; doa bersama dalam lingkungannya dirasakan sebagai beban yang harus dipikulnya dan tidak menghantar kepada Allah.

Dalam komunitas social: ada seorang aktifis Gereja, dia hadir dalam setiap kegiatan gerejani, namun dia bersama keluarga tidak mengenal tetangga yang ada di sebelah kanan dan kirinya rumahnya; dia tidak mengenal dan tidak bertegur-sapa dengan orang-orang yang ada di sekitar rumahnya.

Kasih persaudaraan sejati berasal dan tumbuh dari komunitas di mana kita tinggal, sebab komunitas akan memberi kekuatan dan peneguhan kepada setiap orang, komunitas akan membantu dan memurnikan kemauan setiap orang untuk mengejar kesempurnaan. Kasih persaudaraan menjadi pewartaan iman yang sejati, dia tidak berkotbah dan tidak berkata-kata, ia menjadi pelaksana-pelaksana kasih, dan 'dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku'. Kesaksian inilah katekese baru yang "membuka pintu iman bagi bangsa-bangsa lain", sebagaimana yang sudah diperjuangkan para murid semenjak Gereja perdana seperti diceritakan dalam bacaan pertama tadi.

Ya Yesus, buatlah kami semakin berani menunjukkan diri sebagai murid-muridMu dengan kata-kata dan teori kepandaian, melainkan dengan perbuatan dan tindakan kami sehari-hari. Ya Yesus, tanamkanlah keberanian dalam diri kami untuk bersaksi dalam hidup kesaharian kami, sebab hanya dengan bertindak demikian kami ikut serta dalam karya penyelamatanMu. Yesus, kuasilah kami dengan RohMu selalu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening