Rabu dalam Oktaf Paskah, 7 April 2010

Kis 3: 1-10  +  Mzm 105  +  Luk 24: 13-35

 

Yesus yang tidak dikenal oleh kedua orang muridNya yang mengadakan perjalanan menuju Emaus bertanya kepada mereka: "apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?". Reaksi mereka tiba-tiba: "berhentilah mereka dengan muka muram". Kondisi diri yang sedih, susah dan sakit membuat orang amat sensitive, mudah tersinggung dan tidak dapat menangkap pembicaraan orang dengan tepat dan benar. Itulah yang terjadi dengan kedua murid tadi: ketika mendengar pertanyaan Yesus, mereka langsung berhenti dan wajah mereka muram, ada perasaan jengkel dan menyesal, tampak dari komentar mereka: "adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?". Mohon dimaklumi.

Mengunjungi dan menyapa sesame adalah keutamaan bagi setiap orang, namun menjadi beban bagi mereka yang dikunjungi kalau kita salah bicara dan tidak tepat menyampaikan maksud. Kunjungan dan sapaan bukannya menjadi penghiburan, melainkan dan bahkan menjadi beban bagi mereka. Senyuman dan sapaan terhadap sesame adalah hal yang ringan, sepele dan murah, tetapi perlu menggunakan teknik yang tepat dan benar. Perlu adanya seni dalam berbagi senyum dan sapaan.

Dalam pembicaraan dialogis itu, Yesus akhirnya mampu menguasai mereka, dan tampaknya Yesus sengaja langsung mengendalikan mereka. Dengan nada agak tinggi Yesus menegur mereka: "hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?". Teguran Yesus langsung menukik pada tema pembiraan mereka, menghantam gambaran dan harapan mereka terhadap Mesias. Yesus tidak hanya menegur, Ia juga kemudian "menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi". Kematian dan kebangkitan Kristus adalah program dan rencana Allah semenjak semula.

Kembali Yesus memberi kesaksian tentang diriNya bahwa Dia hidup. Inilah kesaksian Yesus untuk ketiga kalinya dalam Liturgi kita. Kesaksian tentang Dia yang hidup harus berasal dari diriNya sendiri, karena memang 'isi kesaksian' itu mengatasi kehidupan manusia, dan hanya Yesus sendiri yang mampu menyatakan bahwa Dia hidup. Kesaksian Petrus dalam bacaan pertama yang menguatkan dan meneguhkan sesamanya: "emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" adalah kesaksiannya dalam pengenalan dan pengandalan diri akan Yesus.

Yesus, teguhkanlah hati kami dalam mengenal Engkau; semoga kebangkitanMu semakin menggugah kami dalam mewartakan kebenaran dan siap membawa damai bagi sesame. Yesus, semoga kami semakin merasakan kehadiranMu dalam hidup kami, terlebih di saat kami hadir dalam sabda dan perjamuan bersamaMu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening