Selasa dalam Oktaf Paskah, 6 April 2010

Kis 2: 36-41  +  Mzm 33  +  Yoh 20: 11-18

 

Penampakan Yesus pertama kali dialami Maria Magdalena seorang diri, kalau dalam Injil Matius kemarin dialami oleh dua orang perempuan: Maria Magdalena dan Maria yang lain. Yesus meminta kepadanya: "pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu". Dengan mengatakan 'Aku akan pergi' berarti Yesus tidak berada dalam kubur lagi, Yesus tidak tenggelam dalam dunia kematian, Dia hidup dan ada dalam kemuliaan.

Tuhan Allah itu Esa, hanya satu Bapa dan hanya satu Allah. Namun mengapa Yesus membedakan: 'Bapa-Ku dan Bapamu, Allah-Ku dan Allahmu'. Mengapa Yesus tidak menyebut Bapa kita dan Allah kita, bukankah Yesus mengajarkan Bapa kami?  Dengan mengatakan: 'Bapa-Ku dan Bapamu, Allah-Ku dan Allahmu', Yesus secara sengaja memang menegaskan  bahwa Bapa-Ku itu juga Bapamu, Allah-Ku itu juga Allahmu, Allah dan Bapa kita itu sama. Aku akan pergi dahulu untuk menyiapkan tempat bagimu.

Boleh juga kiranya dimengerti bahwa 'Aku dan kamu' itu memang berbeda, Aku dari atas, dan kamu dari dunia, tapi 'Bapa-Ku dan Bapamu, Allah-Ku dan Allahmu' itu satu dan sama. Karena memang kita telah disatukan oleh Bapa sendiri.

Atau penyataan: 'Bapa-Ku dan Bapamu, Allah-Ku dan Allahmu' itu satu dan sama, tetapi relasi 'Aku dan Bapa' jauh berbeda jelas relasi 'kamu dengan Bapa', karena memang 'Aku dan kamu' itu berbeda, sedangkan 'Aku dan Bapa' adalah satu.

Penyataan ini sungguh-sungguh menambah pemahaman kita: betapa luas dan betapa dalamnya misteri Allah itu, kita tidak dapat menangkapnya secara penuh, karena memang keterbatasan kita, ciptaanNya.

Inilah iman kita, barangsiapa percaya kepadaNya ia akan hidup untuk selama-lamanya. Sebab "Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus". Kepercayaan inilah yang menguatkan banyak orang, karena memang anugerah ini disampaikan kepada semua orang tanpa terkecuali. "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita".

Kita juga harus memperhatikan sikap Maria Magdalena tadi. Karena kepedihan dan kesedihannya, bahkan ia tenggelam dalam kegalauan hatinya, Ia tidak mampu mengenal Malaikat, Ia tidak mengenal Tuhan! Ia juga tidak bisa berkata-kata dengan benar. Ketika malaikat-malaikat itu menyapanya: "ibu, mengapa engkau menangis?", Maria tidak memperhatikannya, ia hanya berkomentar: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan". Demikian juga ketika Yesus menyapa dia: "ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?",  Maria tidak tahu bahwa Dia adalah Yesus, malahan menyangka Dia seorang penunggu taman, dan menegurNya: "tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya".

"Maria!" panggil Yesus, mendengar suara panggilanNya barulah Maria sadar, ia berpaling dan berkata kepada-Nya: "Guru". Mendengarkan suaraNya menyadarkan seseorang, mengingatkan seseorang akan Dia yang dicintainya; mendengarkan sapaanNya memberi keberanian kepada seseorang untuk bersaksi: "Aku telah melihat Tuhan!", membuat orang berani berkata-kata tentang kebenaran bahwa Yesus hidup.

Ya Yesus, Engkau telah menyatukan kami sebagai saudara-saudariMu se-Bapa karena memang kehendakMu sendiri agar kami selalu berada di dalam Engkau, agar kami tinggal bersama Bapa. Kami mohon ya Yesus agar kami semakin hari semakin memahami panggilanMu, dan buatlah kami siap selalu medengarkan suaraMu agar kami semakin mengenal Engkau, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening