Jumat Masa Biasa VIII, 28 Mei 2010

1Pet 4: 7-13  +  Mzm 96  +  Mrk 11: 11-26

 

Hari ini dalam Injil ditampilkan kepada kita Yesus yang sempat marah dua kali berturut-turut. Entah kenapa Markus menampilkan kemarahan Yesus sampai dua kali berturut-turut. Kalau kita amati, yang pertama kali sebenarnya marahNya tidak beralasan! Kenapa harus marah dan jengkel pada pohon ara yang saat itu tidak berbuah, karena memang bukan musimnya. "Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara". Segala makhluk ciptaan mengikuti putaran hokum alam. Marah yang kedua kalinya memang amat beralasan. Ia marah terhadap para pedagang, sebab "rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!". Keterlaluan memang rumah doa dijadikan sebagai sarang penyamun. Maaf, tak jarang juga sekarang ini, di beberapa gereja dewan paroki secara sengaja memasang tarif bagi umatnya yang mau berdoa; bagi yang mempunyai banyak uang gereja akan terasa sangat indah karena aneka dekorasi, bisa ditambah lagi dengan lampu, AC, sound, dan misdinar, sedang bagi mereka yang tidak beruang, cukuplah apa yang sudah ada tersedia

Marah adalah kebutuhan manusia yang sungguh-sungguh wajar dan normal. Marah adalah ungkapan jiwa. Marah muncul karena ada sesuatu tatanan keindahan hidup yang dilanggar, ada cita-cita yang diabaikan. Marah itu baik! Sejauh proporsional tentunya. Tidak mungkin terus-menerus marah, tiada hari tanpa marah. Marah itu baik sejauh tidak menjadi kemarahan, artinya masih dalam kendali pribadi yang dewasa dan penuh kasih, sebab dalam hidup sehari-hari ada kenyataan dan ada gambaran; ketidakmampuan diri menerima keberadaan yang nyata dan yang gambaran, menenggelamkan seseorang dalam kemarahan.

Sebagaimana marah adalah ungkapan jiwa, demikian juga percaya. Saya percaya kepada seseorang tidak bisa dipaksakan. Saya percaya kepada seseorang karena saya melihat sesuatu yang indah, yang luhur dan baik, ada sesuatu yang bisa diteladani. Demikianlah seharusnya kepercayaan kita kepada Tuhan, apalagi Tuhan tidak hanya menerima ke-percaya-an, Ia malahan memberi stimulans yang benar-benar mampu menggerakkan hidup seseorang. Kepercayaan menjadi kekuatan seseorang untuk mengkonkritkan gambaran yang dimilikinya. Yesus tadi menegaskan: "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu". Keyakinan bahwa Tuhan bisa membuat segala yang baik dan mau membantu umatNya menjadi modal utama dalam berusaha dan berusaha, serta yakin apa yang dimohonkan itu semuanya bisa terjadi.

Kembali pada persoalan marah sebagai ungkapan jiwa yang bisa tiba-tiba meletus, maka kiranya luapan emosional itu bisa dikendalikan dengan baik dan ditata rapi, sebab emosi seseorang itu hanyalah bagian dari hidup, maka pengendalian diri memampukan seseorang mengungkapkan segala kemampuan lain yang dimiliki diri dan  mendekatkan diri pada sang Empunya hidup itu sendiri. Karena itu santo Petrus dalam suratnya yang pertama tadi menasehatkan: "kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah".

Ya Tuhan Yesus, tambahkan dan teguhkanlah iman kami kepadaMu, sebab seringkali pikiran kami yang menguasai segala karya dan perbuatan kami, bahkan tak jarang jatuh dalam perasaan insane. Yesus buatlah kami semakin setia kepadaMu dan berani berserah diri kepadaMu dan menyerahkan segala program dan kerja kami kepadaMu. Tuhan, berkatilah kami selalu, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening