Rabu Masa Biasa VIII, 26 Mei 2010

Pw. Santo Filipus Neri

1Pet 1: 18-25  +  Mzm 147  +  Mrk 10: 32-45

 

"Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu" pinta Yohanes dan Yakobus kepada Yesus. Suatu permohonan yang amat-amat wajar untuk mendapatkan kedudukan yang nyaman dan terhormat, bukan sekarang ini di tempat ini, melainkan juga dalam kemuliaanNya kelak. Dan ini kiranya bukan hanya sebuah permohonan tetapi juga sebuah pengharapan akan kehidupan kelak.

Tantang Yesus kepada mereka berdua: "kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?".  Sahut mereka: "kami dapat!". Mereka berani berjuang sebagaimana yang diminta Yesus. Yohanes dan Yakobus adalah orang-orang yang commit.

Yesus menegaskan: "memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan". Suatu penyataan yang sulit dimengerti sebatas rasional, tetapi itulah kenyataan ilahi yang disampaikan oleh Yesus. Orang memang harus berjuang dan berjuang, berharap dan berharap, tetapi ia tidak punya hak sama sekali untuk menentukan untuk tinggal dalam kemualiaan Allah. Itu adalah hak priviligi Allah. Kiranya semuanya ini mengandaikan orang harus berani berjuang dan berjuang dan tidak boleh menentukan dirinya sudah cukup dan pantas tinggal bersama dalam kemuliaanNya, seperti yang diungkapkan  seseorang yang kaya sebagaimana kita dengar dalam bacaan Injil kemarin.

Memang tidak kita ketahui apa maksud Yohanes dan Yakobus menyampaikan permohonan itu, padahal Yesus sang Guru baru saja menyampaikan peristiwa yang akan dihadapiNya. Kata Yesus: "sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit". Penyataan Yesus ini seharusnya ditangkap oleh mereka; apa yang akan terjadi pada diri sang Guru pasti akan berimbas pada diri mereka. Bila seorang guru ditangkap dan disiksa, maka semua murid yang mengikutinya akan mengalami hal yang sama.Namun mereka tidak mengerti! Kiranya  permohonan mereka para murid semakin membuka wawasan kita bersama dalam mendapatkan keselamatan dan kemuliaan kekal.

Yesus kemudian melanjutkan nasehatNya: "kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang".

Memang orang harus berjuang dan berjuang untuk mendapatkan hasil, 'berakit-rakit ke hulu, berenang-renang di tepian', namun lebih dari itu, mereka yang telah berhasil dan sukses dalam hidupnya hendaknya memperhatikan mereka yang kecil dan terabaikan, mereka yang memimpin  dan berkuasa hendaknya sungguh-sungguh mau memimpin dan melayani orang-orang yang diserahkan kepada mereka, sebab memang mereka mempunyai kemampuan untuk itu dan mendapatkan kepercayaan, demikian juga mereka yang merasa menang, berkuasa dan sebagai mayoritas dalam kebersamaan hidup hendaknya memperhatikan dan melayani mereka yang kecil dan menjadi anggota bagiannya.

Selain  semakin berani melayani sesame sebagai Kristus sendiri yang menjadi tebusan bagi banyak orang, kiranya kita semakin hari semakin percaya kepadaNya. Pelayanan kita terhadap sesame berarti mengajak orang lain untuk menikmati kemuliaan abadi, dan bukan hanya untuk kepentingan diri; kita bersama-sama menikmati kemuliaanNya. Bacaan pertama pun mengingatkan kita akan hal ini: "oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah. Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu. Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal".

Ya Yesus, teguhkanlah pengharapan kami akan kemuliaan kekal, bukan karena kemauan kami tetapi kehendakMu sendirilah yang mengajak kami agar kami berada di mana Engkau berada. Yesus, teguhkanlah juga semua orang yang berharap kepadaMu, terlebih mereka saudara-saudari kami yang harus berbaring karena sakit. Yesus, berkatilah mereka selalu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening