Rabu Paskah VII, 19 Mei 2010

Kis 20: 28-38  +  Yes 12  +  Yoh 17: 11-19

 

Sebelum Yesus ditinggikan dan dipermuliakan, Dia berdoa kepada Bapa di surge: "Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat". Yesus menyerahkan perlindungan dan penjagaan mereka kepada Bapa di surge. Yesus membiarkan mereka tetap di dunia, tetapi hendaknya kasih Bapa sendiri mendampingi mereka.

Mengapa mereka harus dijaga dan dilindungi? Karena "mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia". Mereka akan mendapat perlawanan dan perlawanan, bahkan dibenci oleh dunia, karena mereka tidak berasal dari dunia semenjak mereka 'dilahirkan baru dalam Roh Kudus', dan dunia tidak mengenal Dia yang telah diutus oleh Allah Bapa di surge.

Yesus melanjutkan doaNya: "kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran". Yesus menghendaki agar mereka dan kita orang-orang yang percaya kepadaNya menjadi kudus sebagaimana 'Allah sendiri kudus'. Pengudusan itu akan terlaksana dalam firmanNya; firmanNya adalah kehendak Allah sendiri, mendengarkan firmanNya berarti mendengarkan kehendak dan kemauan Allah sendiri. "Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran" tegas Yesus. Pengudusan diri Yesus terlaksana dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Bapa.  Sebagaimana Yesus menguduskan diri dengan melakukan kehendak Bapa, demikian juga, demikian juga hendaknya kita,  'bukan saja hanya sebagai pendengar sabda, bahkan menipu diri, melainkan juga pelaksana sabda'.

Paulus dalam bacaan pertama menasehatkan  agar orang berpaut kepada firman Allah yang memungkinkan seseorang mengambil bagian hidup di dalam Allah. Katanya: "firman kasih karunia-Nya itu berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya". Bagian yang ditentukan bagi semua orang tidak lain dan tidak bukan adalah keselamatan, dan memang  ke situlah semua orang dipanggilNya.

Karena itu, guna semakin mengenal dan memahami kehendak Tuhan, kita diundang untuk berani mendengarkan sabdaNya, membaca Kitab Suci, dan agar bisa menikmatinya maka baiklah kita melaksanakannya, bukan hanya sebagai pendengar yang kemudian melupakan diri, melainkan pelaksana sabda. Makanan itu sungguh terasa enak bila lidah yang membuktikannya, lidah khan tak bisa bohong!

Akhirnya Yesus juga mengutus kita para muridNya dengan mengatakan: "sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia". Yesus mengutus kita agar kita mau berbagi keselamatan itu dengan semua orang, sebagaimana Yesus lakukan. Segala yang dilakukan Yesus dalam hidupNya hendaknya menjadi pola hidup bagi semua orang yang percaya. Inilah pola hidup ilahi, berpusat pada Allah dan demi Allah sendiri, dan tidak hanya seputar tindakan insane belaka.

Kiranya pendidikan yang bernafaskan kristiani, sebagaimana kita renungkan dalam Novena Pentakosta di hari keenam ini, hendaknya juga bersifat theocentris berpusat pada Allah, mengantar setiap anak didik pada kedewasaan diri, menjadi seorang yang berwirausaha dan kematangan akhlak, serta mempunyai pengenalan akan Allah yang semakin mendalam. Pendidikan kristiani yang sejati harus menjadikan anak didik sebagai manusia Allah, terlebih-lebih keluarga yang adalah sekolah utama bagi setiap orang dan dalam pembinaan dan pendidikan anak-anak,  keluarga menemukan panggilannya.

Ya Yesus, terima kasih kepadaMu, karena Engkau selalu mendoakan kami agar kami beroleh selamat. Ajarilah kami juga berani mendoakan sesame kami, seperti orang-orang yang tinggal di kanan dan kiri rumah kami, sebab merekapun rindu akan Dikau, dan merekapun ingin menikmati RumahMu yang kudus, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening