Sabtu Paskah VII, 22 Mei 2010

Kis 28: 16-20  +  Mzm 11  +  Yoh 21: 20-25

 

"Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?". Kata-kata inilah yang didengar Yohanes dari mulud  Simon Petrus langsung. Mengapa Simon berkata demikian tentang Yohanes? Yohanes tidak mencatatnya dalam Injil ini. Kita harus berani melihatnya sepertinya ada ketegangan relasi antar mereka berdua. Itu kenyataan dalam hidup bersama. Petrus baru saja diingatkan sampai tiga kali untuk menggembalakan domba-dombaNya; mengapa pertanyaan Yesus itu terlontar dan tidak diarahkan kepada Yohanes yang sering menyebut diri murid yang lain atau murid yang dikasihiNya? Kita harus berani melihat juga bahwa di antara mereka ada pembenaran diri masing-masing! Itu baik, mereka benar-benar PD – percaya diri.

Yesus memahami mereka! Kemudian Dia menengahi mereka dan berkata: "jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku". Dalam hidup bersama, setiap orang harus selalu berani memperhatikan seorang dan lainnya, mengasihi sesame sebagaimana Yesus sendiri telah mengasihi umatNya. Namun tidak dimaksudkan agar kita ikutcampur dengan urusan orang lain, ingin tahu apa yang terjadi dengan diri orang lain.

Di mana letak perbedaan antara memperhatikan sesame dan ikutcampur dengan urusan orang lain? Tentunya para saudara kita Psikolog yang tahu benar dalam hal ini yang mencermati perilaku dan tindakan seseorang. Kiranya baik kita pahami prinsip mendasar bahwa kasih itu membebaskan dan membangun, maka sikap dan tindakan seseorang yang ingin mengatur orang lain, merasa diri benar dan merasa harus tahu kegiatan orang lain, membatasi gerak orang lain adalah sikap yang bertentangan dengan prinsip dasariah kasih. 'Itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku' tegur Yesus kepada Simon Petrus.

Terlebih dalam urusan yang sangat pribadi yakni antara relasi seseorang dengan Tuhan tidak ada orang atau lembaga yang berhak campurtangan. Jawaban hati seseorang terhadap Tuhan amatlah mendasar dalam hidup seseorang, karena itu pewartaan akan keberadaan dan kasih Tuhan adalah amatlah penting dan mendesak daripada pewartaan tentang agama, walau memang tidak boleh dicampuradukkan, agama yang satu berbeda dengan agama yang lain. Perbuatan baik seseorang harus mampu mengantar orang lain kepada Tuhan Allah yang murahhati dan bukan berhenti pada suatu komunitas insane. 'Hendaknya perbuatanmu yang baik dilihat orang dan mereka memuji BapaMu yang di surga'.

Pada akhir pecan ini, Gereja Bunda kudus mengakhiri masa Paskah ini dengan menampilkan Injil Yohanes yang menegaskan: "masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu". Injil memang tidak bermaksud menuliskan sejarah yang meliputi segala tindakan dan karya Yesus; Injil hendak menunjukkan betapa besar kasih Allah kepada umatNya. KasihNya yang amat besar itu mengatasi diri ciptaanNya. Hanya seruan seperti Paulus yang menyadarkan setiap orang untuk menanggapi kasihNya yang luhur itu: 'O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?' (Rom 11: 33-34).

Ya Yesus, semoga kami semakin mempunyai hati kepada sesame, karena memang Engkau mengundang kami semua kepada keselamatanMu. Semoga berkat terang Roh KudusMu kami semakin memahami kehadiranMu yang mengatasi segala. Engkau yang kami puji dan kami muliakan sekarang dan selama-lamanya, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening