Selasa Masa Biasa IX, 1 Juni 2010

2Pet 3: 12-18  +  Mzm 90  +  Mrk 12: 13-17

 

"Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?", tanya orang-orang Farisi dan Herodian kepada Yesus. Pertanyaan mereka sungguh-sungguh riel dan menyangkut hidup social-politik, dan sepertinya menjadi persoalam banyak orang pada waktu itu, dan juga sekarang ini!

Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: "mengapa kamu mencobai Aku?". Yesus menangkap sungguh maksud mereka. Yesus Tuhan tahu apa yang ada dalam hati manusia; benarlah apa yang dikatakan oleh Pemazmur: 'TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh' (Mzm 139: 1-2). Kebodohan orang-orang Farisi dan Herodian ini adalah mencobai sesame; ini melanggar hokum cinta terhadap sesame, dan lebih dari itu: mereka melawan dan menantang Tuhan!

"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!". Jawab Yesus kepada mereka semua; bukan jalan tengah yang mendamaikan, tetapi dengan tegas Yesus mengatakan: berikanlah kepada kaisar yang menjadi hak kaisar, dan kepada Tuhan yang menjadi hak Tuhan.

Jawaban Yesus tidak menjerumuskan Dia dalam jebakan politis. Sebab memang kewajiban semua warga Negara untuk membayar pajak. Pajak adalah modal dalam pembangunan Negara. Pajak adalah kewajiban setiap orang yang mempunyai harta benda dan kekayaan, mereka memberikan sebagian dari kekayaannya untuk membangun bangsa dan Negara. Tidak ubahnya mereka bagaikan memberikan persepuluhan dari yang mereka miliki kepada Negara. Hanya mereka yang mempunyai hartabenda yang wajib membayar pajak, sebab apa yang akan diberikan kalau memang ia tidak mempunyai apa-apa.

Keberatan orang membayar pajak seringkali terjadi karena tidak adanya kejelasan dalam penggunaan pajak dalam membangun Negara, belum lagi adanya bayang-bayang Gayus-gayus yang bergentayangan di mana-mana, yang memang baru-baru ini saja ada oknum mapan yang berteriak; sudah banyak orang tahu akan semuanya itu; kondisi yang menyakitkan! Sebenarnya tak sedikit orang yang ingin berterimakasih dengan setia membayar pajak, namun kondisi birokratif yang sakit membuat orang enggan dan acuh.

Bila Yesus meminta: "bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!", bukan berarti Yesus tidak mengenal uang yang beredar pada waktu itu. Dengan menunjukkan uang yang ada, Yesus mengajak orang mengarahkan diri pada realitas sosio-politik waktu itu: siapa yang berkuasa siapa yang memerintah; mata uang tidak hanya merujuk pada realitas social-ekonomi, di dalamnya terkandung  cakupan wilayah dan keamanan; sang penguasa adalah pengatur segala bentuk kehidupan social seluruh warga yang ada di wilayahnya.

Namun Yesus tidak menghentikan komunikasi hidup pada tatanan social belaka yang bersifat horizontal ( mendatar: antar anggota masyarakat), Dia juga mengarahkan setiap orang pada tatanan social yang bersifat transcendental (ke atas: hubungan ilahi), karena memang itulah tugas perutusanNya: penyelamatan umat manusia. Setiap orang perlu memperhatikan 'apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!' guna menjaga keberlangsungan hidup atau nyawa-nya, sebab hidup atau nyawa seseorang itu bukan milik dunia; kedua-duanya sama-sama ciptaanNya, hidup akan sejati bila diarahkan kepada sang Pemilik kehidupan itu sendiri. Yesus mengingatkan: 'siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.  Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?' (Mrk 8 :35-37).

Keberlangsungan hidup guna menjadi hidup sejati dan tidak mengalami kebinasaan juga dikatakan dalam bacaan pertama dengan istilah menikmati langit dan bumi baru, dan kita harus berusaha dan berusaha untuk mendapatkannya. Petrus menulis: "sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia. Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh. Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya".

Apa yang dapat kita buat? Kita penuhi apa yang menjadi tugas kewajiban kita! 'Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan'  (Luk 17: 10).

Ya Tuhan Yesus, bantulah kami dalam membagi perhatian, terhadap Engkau, terhadap sesame dan terhadap kehidupan kami sehari-hari. Semoga kami berani memberi prioritas dalam mengemban panggilan hidup ini sehingga setiap langkah kami ini tepat guna dan mengenai sasaran. Yesus, kuasailah kami dengan Roh KudusMu, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening