Selasa Paskah V, 4 Mei 2010

Kor 14: 19-28  +  Mzm 145  +  Yoh 14: 27-31

 

 "Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku". Itulah yang dikatakan Yesus kepada kita hari ini. Kepergian Yesus amat membahagiakan, karena kepergianNya bukanlah perpisahan yang mungkin bersatu kembali atau sebaliknya, kepergiaanNya sungguh-sungguh menyatukan.

Menyatukan? Kepergiaan Yesus memang benar-benar hendak menyatukan, karena Yesus hendak pergi dan segera datang kembali mengajak semua orang agar di mana Dia berada di situpun milikNya berada. Pada akhir bukan April kemarin Yesus menegaskan kepada kita: "di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada". Semuanya ini terjadi secara serentak. KepergianNya tidak memisahkan melainkan menyatukan. Karena kepergianNya yang menyatukan inilah, maka 'sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku".

Yesus melanjutkan: "sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi". PenyataanNya ini berarti ditujukan untuk semua orang, tanpa terkecuali; dan penyataanNya itu memang sudah terjadi dalam PaskahNya yang mulia. Karena itu, bersyukurlah kita yang telah percaya kepadaNya, sebab kita akan beroleh dan menikmati janjiNya itu yakni tinggal bersama dengan Dia di mana Dia berada! Kepercayaan kita kepadaNya mendatangkan keselamatan.

Kiranya terus menjadi pemahaman kita bersama bahwa dalam usaha menikmati keselamatan itu, setiap orang tetap tidak bebas dari hokum alam: orang yang percaya kepada Tuhan tidaklah bebas dari sengatan matahari atau guyuran hujan, sakit atau bencana alam, bahkan tantangan dari dalam diri pribadi ataupun orang-orang sekitar teruslah tetap ada, yang semuanya itu dapat memurnikan iman kepercayaan itu sendiri. Para murid membahasakan pemahaman ini dengan menceritakan pengalaman mereka sebagaimana dikutip dalam bacaan pertama tadi, bahwa : "di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara". Mengikuti Yesus berati harus berani menyangkal diri dan memanggul salib kehidupan sehari-hari.

Yesus, Engkau telah menyiapkan tempat yang layak bagi kami, dan itulah kepergianMu yang menyatukan kami semua di dalam Engkau. Kuatkanlah iman kami kepadaMu agar kami semakin hari semakin setia kepadaMu dan selalu siap membawa damai kepada sesame kami sebagaimana Engkau sendiri telah melakukannya untuk kami. Yesus berkatilah kami selalu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening