Jumat Masa Biasa XII, 25 Juni 2010

2Raj 25: 1-12  +  Mzm 137  +  Mat 8: 1-4

 

"Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku". Suatu bentuk permohonan yang disertai pengharapan yang tulus dan penuh penyerahan diri. Kiranya bagus kali bentuk permohonan ini.

Yang kiranya perlu dan harus kita pelajari adalah bentuk permohonan yang bernada perintah atau paksa. Karena memang bentuk permohonan ini sering kita jumpai dalam Gereja-gereja saudara-saudari kita Kristen. Mengapa nada permohonan seperti itu sering mereka pergunakan? Kiranya secara psikologis memberi peneguhan kepada mereka yang didoakan, sebab kepastian mendapatkan sesuatu harus juga menjadi modal bagi seseorang dalam mengajukan permohonan. Bagaimana kita bisa bermohon kalau memang tidak ada keyakinan dan kepercayaan bahwa doa kita akan dikabulkan? Namun lebih dari semua itu, iman akan Tuhan Yesus yang mahakasih dan mahamurah harus menjadi modal dasar bagi seseorang untuk melambungkan permohonan kepadaNya. 'Aku yakin dan percaya bahwa Tuhan Yesus itu baik dan Ia akan mengabulkan setiap permohonanku', kata awal yang harus keluar dari lubuk hatiku dalam memanjatkan doa-doa kepadaNya.

Dan memang benar permohonan orang yang sakit kusta tadi, sebab "Yesus lalu mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: Aku mau, jadilah engkau tahir. Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya". Kepercayaannya sungguh benar dan terbukti bahwa Yesus memang baik hati, Dia suka membantu dan memberi apa yang diminta orang yang memerlukan; dan orang kusta itu merasakan kebaikanNya.

"Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun", tegur Yesus kepada orang kusta itu. Mengapa Yesus melarangnya? Bukankah pengkabaran itu merupakan kesaksian dan karya pewartaan kasih Tuhan? Kehendak Tuhan agar semua manusia itu selamat seharusnya sudah diketahui dan diimani oleh banyak orang. Dan bila kita ingat misi perutusan Yesus datang ke dunia adalah ingin menyelamatkan dan menebus umat manusia dengan kematian dan kebangkitanNya. Yesus mampu mengadakan mukjizat dan mengusir kuasa kegelapan, sebab memang Dialah Allah Putera. Namun Ia datang bukan sebagai pembuat mukjizat dan pengusir kuasa kegelapan, Yesus hendak menyelamatkan umat manusia dan seluruh ciptaanNya. Karya pewartaan yang benar adalah penyampaian kabar sukacita bahwa: Yesus datang sebagai seorang Mesias yang menyelamatkan semua orang berkat kematian dan kebangkitanNya dari alam maut. Tidaklah tepat dan tidak menghantar orang pada iman yang benar, bila pewartaan terarah pada Yesus sang Penyembuh, Pembuat mukjizat dan Exorcist, Pengusir setan. Yesus itu Allah!

Akhirnya, Yesus datang bukan untuk meniadakan hokum Taurat. Ia mengembalikan orang kusta tadi dalam rangkulan masyarakat pada umumnya menurut adat istiadat agama yang telah ada. Karena itu Yesus menyuruh orang tadi: "pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka". Permintaan Yesus ini berdasarkan hokum Taurat sendiri yang mengatur perilaku dan tata sosial di masyarakat sebagaimana tercantum dalam Kitab Imamat 14: 1-32. Dalam Kitab itu secara terinci diuraikan apa yang harus diperbuat dan dilakukan oleh orang yang menerima rahmat penyembuhan dari penyakit kusta.

"Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku". Suatu bentuk permohonan yang berdasarkan ketidakmampuan diri seseorang akan hidupnya, ia orang yang lemah dan terbatas. Namun dia mempunyai kepercayaan kepada Seseorang yang dimintainya pertolongan; dia pun tahu Siapakah orang yang dimintai, dan hanya Dialah yang berhak menyembuhkan, tidak ada yang lain; dan kita hanya dapat meminta dan memintanya. Kepercayaan dan penyerahan diri kepada sang Empunya kehidupan memang mendatangkan keselamatan. Keterpurukan Israel di hadapan bangsa-bangsa asing sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama direfleksikan sebagai ketidakmauan mereka sendiri meminta bantuan dari Tuhan Allah.

Ya Tuhan Yesus, sembuhkanlah hati kami yang mudah putus asa ini; namun terlebih-lebih ya Tuhan, sembuhkanlah saudara-saudari kami yang  sampai sekarang ini masih harus berbaring karena sakit, hiburlah mereka dalam proses penyembuhan ini agar Engkau sendiri tetap menjadi hiburan dan sukacita bagi mereka. Yesus, teguhkanlah hati mereka dan jamahlah mereka semua dengan tanganMu yang lemah lembut. Amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening