Kamis Masa Biasa IX, 3 Juni 2010

2Tim 2: 18-15  +  Mzm 25  +  Mrk 12: 28-34

 

"Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu". Penyataan ini benar-benar menegaskan bahwa mengasihi Tuhan itu tidak bisa separoh-paroh atau bila ada waktu dan kesempatan, asal suka. Mengasihi Tuhan harus menjadi ungkapan dari seluruh hidup seseorang, dan itu harus diperjuangkan!

"Hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri".  Mudahnya, tidak ada orang yang suka mencelakakan diri, tidak ada orang yang mau diganggu dan disakiti. Demikian pun hendaknya kita berani menjaga orang lain seperti kita menjaga diri kita sendiri. 'Apa yang tidak kausukai sendiri, janganlah kauperbuat kepada siapapun' (Tob 4: 15).

"Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini". Hal ini dinyatakan karena memang kedua hokum ini berkaitan satu sama lain. Bagaimana orang mengatakan mengasihi Tuhan bila ternyata ia tidak memberi perhatian kepada sesame? Suatu kebohongan hidup: bila seseorang rajin membaca Kitab Suci dan berdoa, tetapi ia tidak bisa menjaga mulud dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Demikian juga sebaliknya, orang yang mengasihi sesame tetapi tidak memberi hati kepada Tuhan, ia hanya beroleh keamanan hidup tetapi tidak mendapatkan keselamatan. Yang menentukan seseorang selama adalah Tuhan sang Empunya kehidupan, dan bukan orang-orang yang berada di sekitarnya.

Kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan". Mengapa begitu? Karena memang semua korban bakaran dan korban sembelihan itu hanyalah lambang dan symbol sebuah pengabdian atau penghormatan, tak ada ubahnya dengan bunga tabur atau krans bunga di waktu pemakaman, sedangkan kasih kepada Tuhan dan sesame adalah tindakan nyata, suatu pola kehidupan konkrit.

Apa yang harus kita lakukan?

Tentunya kita harus berani mengasihi Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap tenaga, dan mengasihi sesame seperti mengasihi diri sendiri. Dan itu tidak mudah! Inilah salib! Namun kiranya kita memperhatikan nasehat Tuhan sendiri melalui Paulus yang meminta kita berani melakukannya, walau harus menderita, demi hidup kita sendiri dan mungkin orang lain. Paulus telah merasakannya, dan kini ia mengajak kita; katanya "aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal. Benarlah perkataan ini: jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita; jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya".

Ya Tuhan Yesus mengasihi Engkau dengan segenap hati dan mengasihi sesame seperti mengasihi diri sendiri tak ubahnya memanggul salib kehidupan ini. Tolonglah kami ya Tuhan Yesus, agar kami setia melakukan hokum kasihMu yang menyelamatkan itu. Tuhan, bantulah kami, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening