Kamis Masa Biasa X, 10 Juni 2010

1Raj 18: 41-46  +  Mzm 65  +  Mat 5: 20-26

 

"Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga",  kata Yesus kepada para muridNya.

Berat kali tuntutan Yesus!  Siapa tidak kenal dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka adalah orang-orang yang tahu banyak tentang Alkitab, mereka adalah pendoa, dan mereka adalah orang-orang terkemuka dan jadi panutan di tengah-tengah masyarakat. Mereka mempunyai kelebihan dan keunggulan dari kaum awam, mereka orang-orang hebat! Bisa sedikit meneladan mereka, itu sudah bagus.

Hidup keagamaan kita harus lebih dari mereka. Hidup keagamaan itu seperti hidup doa pribadi dan peribadatan liturgis-sakramental, pantang dan puasa, amal dan kasih, dan kepribadian; point-point inilah yang harus diusahakan dan diusahakan terus menerus. Tidak ada standard yang  mengatakan bahwa hidup keagamaan itu sudah cukup baik. Perbandingan yang diberikan Yesus terhadap orang-orang Farisi dan ahli Kitab harus kita lihat bahwa: hidup keagamaan itu harus terus-menerus diusahakan dan diperjuangkan; tidak ada orang yang berhak mengukur dirinya sendiri dan mengatakan 'aku sudah sempurna', tidak cukup hanya dengan mengatakan: 'semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku' (Mrk 10: 20).

Hidup keagamaan harus selalu baik adanya. Teguran, saran dan kritik, sapaan dan nasehat harus sudah disampaikan, dan orang yang ingin hidup baik harus siap menerimanya. Janganlah sesudah membunuh seseorang baru dihukum, orang marah harus sudah mendapatkan hukuman! Sebab janganlah kemarahan itu membangkitkan emosi, menebarkan kedengkian dan irihati dan membakar nafsu dendam, dan menguasai hidup seseorang, kemarahan adalah awal pembunuhan, kemarahan membelenggu orang, dan orang menjadi terkungkung, tidak bebas lagi. Amarah harus segera dihentikan, persoalan harus segera diselesaikan.

Sebaliknya kita pun dapat meredakan kemarahan sesame dengan berani melemparkan sapaan dan senyuman damai. Berdamailah dengan saudaramu ataupun lawan lawanmu sebelum melangkahkan kaki ke depan; sebab bagaimana kita dapat membawa persembahan syukur kepada Dia yang murahhati bila masih bersitegang dengan saudara sendiri, ucapan syukur sungguh-sungguh terasa dan melambung tinggi ke atas awan bila diiringi nyanyian jiwa yang damai; sebab seorang lawan tidak akan berhenti menyerang;  janganlah lawan 'menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara', sapaan damai akan menghentikan seorang lawan menjadi musuh, kita hidup bukan untuk berperang.

Kiranya kita dukung seruan Kompas, Selasa 8 Juni kemarin: 'Lawan Kekerasan dengan Damai', sebab dunia yang damai akan membuat kita hidup nyaman dan menyenangkan. Tak dapat disangkal memang, banyak orang berdoa dan berdoa minta rejeki dan kesehatan, tapi sedikit kali orang yang meminta kedamaian dan keadilan; dapatkah kita hidup sehat dan menikmati rejeki di tengah dunia yang jauh dari kedamaian? Tentunya kita tidak bisa menikmati makanan di samping orang-orang yang lagi bertengkar dan berperang.

Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, itulah perintah Yesus. Hidup keagamaan itu adalah kenyataan hidup sekarang ini, bukannya kelak. Perintah nabi Elia pada Ahab untuk segera pergi memberi gambaran bahwa perintah dan kemauan Tuhan itu tidak bisa ditunda-tunda lagi. 'Pergilah, kata Elia, katakan kepada Ahab: Pasang keretamu dan turunlah, jangan sampai engkau terhalang oleh hujan. Maka dalam sekejap mata langit menjadi kelam oleh awan badai, lalu turunlah hujan yang lebat'.

Ya Tuhan Yesus, jadikanlah kami orang-orang yang setia dalam mengejar kesempurnaan hidup agar kami dapat menikmati Kerajaan Surga; dan sertailah kami dengan hujan kedamaian, keadilan dan sejahtera agar kehidupan kami menjadi tanah yang subur bagi taburan kasihMu, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening