Rabu Masa Biasa XI, 16 Juni 2010

2Raj 2: 1.6-14  +  Mzm 31  +  Mat 6: 1-6.16-18

 

'Jaim yach' itulah komentar orang yang kemauannya tidak diikuti oleh temannya. Jaim (jaga image) adalah komentar bernada negative kepada orang lain. Kenapa harus disampaikan? Sebaliknya orang yang sering berkata demikian kepada temannya sebenarnya adalah orang yang empe (MP: mohon perhatian). Itulah psikologi pergaulan sekarang ini. Jaim itu baik-baik saja, asal tidak berlebih-lebihan. Setiap orang memang harus menjaga privacy diri, pergaulan yang tidak menjaga jarak, dan bebas bertindak mengurangi makna pergaulan itu sendiri, sebab pergaluan dan persahabatan yang sejati itu membangun diri.

Namun kalau kita lihat sekarang ini, banyak orang tidak lagi hanya bersikap jaim, malahan merambah pada tataran pamer diri, pamer nama, pamer keunggulan; semuanya dimaksudkan untuk mendapatkan pujian dan keharuman nama yang memang sudah dimiliki. Dalam dunia social politik itu wajar, karena memang di situlah ladangnya. Namun tidaklah demikian dalam hidup keagamaan! "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga". Injil hari ini sungguh-sungguh mengingatkan kita semua. Amat actual tampaknya!

Memberi sedekah, berdoa bersama dan berpuasa itu baik adanya. Semuanya itu membahagiakan jiwa, dan mengarahkan jiwa pada sang Ilahi yang sempurna AdaNya. Namun seperti yang disitir Yesus tadi:  jangan kita melakukan amal sedekah, berdoa dan berpuasa hanya supaya dilihat orang. Kalau itupun dilakukan, sudah mendapatkan berkat pujian dan pengakuan sebagai orang saleh dan dermawan, namun tidak mendapatkan apa-apa dari Tuhan, 'kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga'. Mereka tidak mendapatkan upah dari Tuhan, karena memang bukan Tuhan yang mereka cari, mereka hanya mencari pujian dari manusia dan keharuman nama.

'Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu; jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi; apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa'.

Kiranya penyataan Yesus hari ini semakin bergema dalam hidup menggereja, karena tak jarang hidup keagamaan menjadi lahan yang subur dalam menyombongkan diri dan mencari keharuman nama, sampai-sampai orang bisa lupa diri: di mana dia berdiri di mana dia berada tempat dia hidup dan menarik nafas. Istilah hidup keagamaan adalah sebuah ungkapan bahwa ada banyak kegiatan hidup kita sehari-hari yang memampukan kita untuk terus-menerus mencari Tuhan sang Empunya kehidupan ini.

Kita perlu terus mencari dan mencari Dia, karena memang ke sanalah hidup kita mengarah!

Elia adalah manusia Allah, dan banyak orang memang mengenal dia demikian, termasuk Elisa muridnya. Elisa pun juga ingin meniru sang gurunya dalam mencari Allah, Elisa pun ingin menjadi manusia Allah. Karena itu, "biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu", pinta Elisa. "Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau" teguh Elisa yang selalu dekat dengan Elia. Kepergian dan "naiknya Elia ke sorga dalam angin badai" semakin menguatkan Elisa dalam mengarahkan hidupnya dalam mengabdi Allah.

Ya Tuhan Yesus, ingatkanlah kami bila kami mulai mencari kepuasan diri dalam karya pelayanan kami, tegurlah kami ya Yesus dengan suaraMu yang lembut, dan buatlah kami untuk berani dengan mudah berbalik kepadaMu. Yesus, bantulah kami selalu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening