Rabu Masa Biasa XII, 23 Juni 2010

2Raj 22: 8-13; 23: 1-3  +  Mzm 119  +  Mat 7: 15-20

 

"Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas" tegas Yesus kepada para muridNya.

Nabi adalah public figure,  ia dikenal di mana-mana karena keharuman nama, terlebih lagi karena mereka menyampaikan firman, mereka membawa pesan Allah. Nubuatnya seringkali tepat sasaran, karena itu banyak orang takut dan gentar berhadapan dengan mereka, terlebih mereka yang melanggar dan melawan hokum Taurat dan kitab-kitab para Nabi.

Persoalannya sekarang adalah nabi-nabi palsu! Mereka datang dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Penampilan sebagai serigala buas pasti akan dijauhi oleh umat. Itu pasti! Kesulitannya adalah mereka tampil dengan berbulu domba padahal hatinya adalah serigala buas. Mereka terus-menerus mencari mangsa dan melahapnya, tetapi mereka tampil lembut dan penuh wibawa.

Yesus hanya menegaskan: "dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka". Penyelesaian ini menunggu waktu yang relatif lama. Apa harus menunggu adanya korban, baru bertindak? Tidak!  Dalam kuasa kasihNya, sekarang harus segera bertindak!

Karena itu, santo Yohanes menasehatkan: 'saudara-saudariku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia' (1Yoh 4: 1). Inilah pembedaan roh, discretio spirituum, suatu usaha pengandalan kekuatan dan terang Roh Kudus dalam bertindak bijaksana dan melatih kepekaan hati untuk melihat dan merasakan kehadiran Roh. Dalam peristiwa kehidupan sehari-hari Allah terus-menerus berkarya dan berkarya dalam hidup umatNya, Ia mendampingi umat yang dikasihiNya. Namun sepertinya 'diijinkan oleh Allah' (bdk Ayb 1: 8-12), kuasa roh kegelapan sempat menyelinap dan membuai orang untuk tinggal dalam kemapanan dan lupa akan Kebaikan dan Keindahan sejati, dan bahkan roh secara sengaja hendak membinasakannya. Di sinilah hati harus bersuara; dalam bimbingan kuasa Roh Kudus hati harus terus-menerus bersuara dan bersuara untuk mengarahkan kembali langkah kehidupan pada Kebaikan dan Keindahan yang sejati. Tak jarang manusia akhirnya harus memasuki malam gelap untuk menuju puncak kehidupan yakni Yesus Kristus sendiri.

Kepekaan suara hati hanya bisa terjadi bila memang semenjak awal hati telah dengan setia mendengarkan suara Tuhan sendiri, sebab sabdaNya adalah pelita kehidupan. Kitab Suci adalah sabda Tuhan. Kesetiaan membaca Kitab Suci adalah pelatihan mendengarkan suara dan kehendakNya, membaca Kitab Suci membuka kesadaran akan kehidupan. Setelah membaca Kitab Suci, Raja Yehuda disadarkan akan kondisi bangsanya, maka ia mengajak seluruh rakyatnya untuk berdamai kembali dengan Allah. Bacaan pertama tadi mencatat: "kemudian pergilah raja ke rumah TUHAN dan bersama-sama dia semua orang Yehuda dan semua penduduk Yerusalem, para imam, para nabi dan seluruh orang awam, dari yang kecil sampai yang besar. Dengan didengar mereka ia membacakan segala perkataan dari kitab perjanjian yang ditemukan di rumah TUHAN itu. Sesudah itu berdirilah raja dekat tiang dan diadakannyalah perjanjian di hadapan TUHAN untuk hidup dengan mengikuti TUHAN, dan tetap menuruti perintah-perintah-Nya, peraturan-peraturan-Nya dan ketetapan-ketetapan-Nya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan untuk menepati perkataan perjanjian yang tertulis dalam kitab itu. Dan seluruh rakyat turut mendukung perjanjian itu".

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami setia mendengarkan bisikan RohMu agar kami mampu bertindak bijak dalam hidup sehari-hari, dan pertajamlah suara hati kami dengan suaraMu sendiri. Yesus, bantulah kami selalu, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening