Sabtu Masa Biasa X, 12 Juni 2010

1Raj 19: 19-21  +  Mzm 16  +  Mat 5: 33-37

 

Dalam acara-acara pelantikan ada sumpah ataupun janji. Mengapa seseorang harus berjanji atau bersumpah? Secara negative, adanya sumpah ataupun janji, karena seringnya muncul ketidakpercayaan seorang terhadap yang lain, adanya ketidaksetiaan seorang dalam menghayati kemauan dan janji yang telah diucapkan. Mengatasi kelemahan manusiawi inilah diperlukan adanya ikatan, bahkan aneka macam aturan. Secara positif, sumpah dan janji itu meneguhkan kemauan seseorang untuk berani melangkah ke masa depan yang lebih baik; adanya ketidakpastian dalam hidup, tidak mematikan semangat seseorang untuk berani maju pantang mundur. Ada suatu yang indah dan luhur di depan sana, aku harus menggapinya!

Dalam konteks social, politik dan hokum, sumpah atau janji harus tetap dilaksanakan! Sebab kecerdikan hidup seseorang mampu menyatakan merah itu hijau! Ini fakta.

Terhadap Tuhan Allah? Dalam Perjanjian Lama masih diijinkan bersumpah kepada Tuhan, tapi bersumpah sungguh-sungguh; "jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan".

Namun menurut Yesus: "Aku berkata kepadamu: janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit", baik demi langit, bumi, Yerusalem, atau kepalamu.  Kita tidak boleh bersumpah! Karena kita tidak punya hak dan kuasa untuk itu!  "Karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun" tegas Yesus. Kita tidak berkuasa atas hidup! Kita tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut, kita hanya bisa menyemir rambut, kita pandai mendustai hidup.

"Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat". Yesus meminta kita agar tidak mudah mengeluarkan kata-kata, sebaliknya hendaknya kita jujur dan berterus-terang dalam berkata-kata. Seseorang harus berani mendengarkan, bermeditasi dan berkontemplasi terlebih dahulu sebelum berkata-kata. 'Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?' (Luk 14: 28.31), pinta Yesus di suatu kesempatan.

Bagi kita yang termasuk kaum pemula, kiranya pengalaman Elisa dalam bacaan pertama menjadi contoh bagi kita. Ketika Elia mendekatinya dan melemparkan jubahnya kepadanya, Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya: "biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau".  Dan  Elia mengijinkannya. Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya. Saya melihat perizinan Elisa sebagai keberanian untuk mendengarkan, bermeditasi dan berkontemplasi terlebih dahulu sebelum berkata-kata. Kunjungan Elisa untuk berpamitan adalah kunjungan seorang muda belia yang belum banyak makan garam dalam hidup ini.

Bagaimana kita menggandengkan pengalaman Elisa ini dengan pernyataan Yesus, ketika ada seorang murid berkata kepada-Nya: 'Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku', Yesus berkata: 'ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka'?

Mari kita dengarkan, bermeditasi dan berkontemplasi terlebih dahulu sebelum berkata-kata!   Mengikuti Yesus itu harus sebuah keputusan!

Ya Tuhan Yesus, buatlah kami menjadi orang-orang yang setia akan perkataan dan perbuatan kami. Jadikanlah kami setiawan dan setiawati dalam hidup kami sehari-hari, baik dalam kerja dan pergaulan kami. Yesus, jadikanlah kami orang-orang yang kontemplatif di tengah-tengah kesibukan sehari-hari. Amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening