Sabtu Masa Biasa XI, 18 Juni 2010

2Taw 24: 17-25  +  Mzm 89  +  Mat 6: 24-34

 

"Janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu".

Ayat ini sangat sensitive!

Kalau tidak pas dan tepat waktunya menyampaikan pesan ini bisa menimbulkan komentar yang sumbang. Bagaimana orang tidak kuatir dan gelisah bila memang tidak ada makanan dan minuman, tidak ada pakaian? Dalam keadaan berkekurangan, tidaklah mudah mengatakan kepada seseorang: 'Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu', Tuhan yang berbelaskasih itu bukanlah seorang sinterklas yang dengan seenaknya melemparkan sebuah permen. Tidaklah mudah juga mengatakan: 'semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah' kepada seorang yang belum mendapatkan kepastian makan dan minum apa esok hari.

Kekuatiran menambah beban hidup! Yang sakit dan berkesusahan dibuatnya putus asa dan harapan dibuatnya sirna. Yang berkekurangan bisa dibuatnya melawan sang Kehidupan.

"Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?  Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?"

Namun kalau kita telusuri perlahan-lahan dan kita berbicara bersama: kekuatiran itu adalah hal yang wajar dalam kehidupan; adanya kekuatiran menunjukkan bahwa kita masih hidup! Namun ada baiknya kita tidak tenggelam dalam kekuatiran; kekuatiran hendaknya malahan membangkitkan kita untuk berani beranjak dari masa sekarang ini ke masa depan yang lebih baik.  "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?". Kuatir itu wajar, namun kekuatiran diri tidak menyelesaikan masalah, kekuatiran 'tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun' (Mat 5: 36).

Mari kita bekerja dan bekerja, sebab 'barangsiapa tidak bekerja, janganlah ia makan' (2Tes 3: 10). Dengan bekerja kita pasti mendapatkan makanan dan pakaian sebagai penunjang kehidupan. Kita makan untuk hidup, dan bukan hidup untuk makan. Karena itu, 'bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya' (Yoh  6: 27).

Kita makan untuk hidup, dan bukan hidup untuk makan. Benar! Bukankah hidup itu memang lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?  Karena itulah Yohanes mengajak kita untuk mencari makanan yang bertahan sampai kepada hidup kekal, yakni makanan yang diberikan oleh Yesus Kristus sendiri. Dengan kata lain, dalam hidup ini hendaknya kita mengutamakan kehendak Allah, bukannya makanan dan pakaian; dan kalau kita berani mencari kehendakNya maka yang lain akan ditambahkanNya kepada kita. "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu".

Dan dalam kaitannya dengan pesan Injil kemarin yang meminta kita menyimpan harta di surge, kita tetap harus berani bekerja dan bekerja untuk hidup. Kalau hidup itu terarah pada Allah dan bekerja itu menghasilkan uang, maka bila diruntut menjadi: pertama uang, harta dan benda itu adalah bagian dan hasil dari sebuah pekerjaan, kedua pekerjaan atau bekerja itu adalah bagian dari hidup, dan ketiga hidup itu sendiri terarah pada Allah, maka kiranya Allah hendaknya menjadi tujuan dan arah dari sebuah perjalanan kehidupan, dan bukannya harta kekayaan yang adalah bagian kecil dari hidup. Yesuspun menegaskan dalam Injil hari ini: "kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon".

'Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu', sebaliknya keberpalingan manusia dari Tuhan Allah yang berbelaskasih, manusia tidak mendapatkan apa-apa. Bacaan pertama merenungkan keterpurukan social politik di jaman raja Yoas adalah akibat dari ketidakberpihakan Tuhan terhadap umatNya. Yoas sendiri bersama umatnya menjauhi Allah, walau berulangkali telah diingatkanNya. Diceritakan tadi: "ketika pergantian tahun tentara Aram maju menyerang Yoas dan masuk ke Yehuda dan Yerusalem. Dari bangsa itu semua pemimpin habis dibunuh mereka dan segala jarahan dikirim mereka kepada raja negeri Damsyik. Walaupun tentara Aram itu datang dengan sedikit orang, namun TUHAN menyerahkan tentara yang sangat besar kepada mereka, karena orang Yehuda telah meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyang mereka. Demikianlah orang Aram melakukan penghukuman kepada Yoas".

Ya Tuhan Yesus, tambahkanlah iman kami kepadaMu agar kami tidak mudah kuatir akan hidup ini, melainkan malahan semakin berani menatap Engkau yang adalah Empunya kehidupan ini. Yesus berkatilah kami selalu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening