Sabtu Masa Biasa XII, 26 Juni 2010

Rat 2: 10-14.18-19  +  Mzm 74  +  Mat 8: 5-17

 

"Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita" pinta seorang perwira kepada Yesus. Sungguh menarik! Seorang perwira, seorang yang mempunyai jabatan dan seorang yang terpandang, dalam dunia militer lagi, memintakan obat, memintakan kesembuhan untuk seorang hambanya, seorang perwira begitu perhatian kepada hambanya; lagi-lagi dia minta kepada Seorang yang berada di dalam kekuasaannya, seorang penguasa meminta bantuan kepada seorang jajahannya. Ia adalah seorang perwira tapi dia adalah seseorang yang mempunyai hati.

Baik, "Aku akan datang menyembuhkannya" jawab Yesus.

Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh". Suatu sikap yang sungguh-sungguh rendah hati; dan perwira itu yakin bahwa Orang yang dihadapinya ini mampu menyembuhkan hanya dengan kata-kataNya saja, tanpa harus melihat dan berjumpa dengan orang yang akan disembuhkan. Ia yakin bahwa Yesus bisa melakukan semuanya itu!

Dengan tulus hati ia menyambung: "Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya". Sebuah pernyataan yang jujur dan tulus hati mengatakan apa adanya; dan dia memang merasa tidak pantas menerima kehadiranNya, namun ia amat membutuhkan pertolonganNya.

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel" sambung Yesus penuh rasa kekaguman terhadapnya. Belum pernah ada orang Israel semacam itu yang dijumpai Yesus selama ini, padahal Israel adalah bangsa terpilih, umat milik Allah sendiri. Karena itu, Yesus melanjutkan: "Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi".

Kita bangga sebagai umat milik Allah, sebagai GerejaNya yang kudus, sebagai putera-puteri Bapa di surge. Sebutan yang membanggakan ini seharusnya semakin mendukung kita untuk berani datang kepadaNya dan bertindak sebagaimana sebutan yang luhur itu.

Iman sang perwira itu sungguh benar! "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya" kata Yesus kepadanya, dan 'pada saat itu juga sembuhlah hambanya'.

Datang kepada Tuhan memang sungguh membahagiakan dan menentramkan jiwa. Kecuali ibu mertua Petrus yang terbaring yang didatangi Yesus, banyak orang datang kepada Yesus mohon disembuhkan. "Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit".

Datanglah kepadaKu kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadaMu. Itulah undangan Yesus kepada kita. Yesus memang datang ke dunia dan ditentukan oleh Allah Bapa untuk menyelamatkan semua umatNya. "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita". Mengapa banyak orang  enggan menggunakan kesempatan luhur ini?

Ketika Israel terbengkelai jauh dari kehidupan sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama tadi, Allah melalui para nabiNya mengajak mereka untuk datang kepadaNya, menyeru, mengeluh dan berteriak kepadaNya, apa yang dirasakan itulah yang harus dikatakan kepadaNya."Berteriaklah kepada Tuhan dengan nyaring, hai, puteri Sion, cucurkanlah air mata bagaikan sungai siang dan malam; janganlah kauberikan dirimu istirahat, janganlah matamu tenang! Bangunlah, mengeranglah pada malam hari, pada permulaan giliran jaga malam; curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan, angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu, yang jatuh pingsan karena lapar di ujung-ujung jalan!".

Yesus, teguhkanlah hati kami agar kami berani datang kepadaMu, seringkali kami malas datang kepadaMu karena kami merasa diri mampu menghadapi segala, kami lupa siapakah diri kami. Yesus, sembuhkanlah kebodohan hati kami agar kami bersemangat datang dan mengunjungi Engkau.

Yesus Kristus, hiburlah saudara-saudari kami yang kini sedang berbaring karena sakit.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening