Selasa, 29 Juni 2010

Hari Raya Santo Petrus dan Paulus

Kis 12: 1-11  +  2Tim 4: 6-8.17-18  +  Mat 16: 13-19

 

"Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" tanya Yesus kepada para muridNya. Ada yang mengatakan 'Yohanes Pembaptis', ada yang mengatakan 'Elia', dan ada pula yang mengatakan 'Yeremia atau salah seorang dari para nabi'. Tidak ada yang menyamakan Yesus dengan 'Musa', padahal pengalaman sejarah Israel tak bisa dilepaskan daripadanya, kenapa? Apakah umat Israel sudah lupa akan sejarah hidupnya? Indonesia termasuk bangsa dan masyarakat yang mudah melupakan sejarah! Beberapakali media kali menurunkan artikel semacam itu.

"Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" jawab Petrus yang mewakili para muridNya yang lain. Jawaban Petrus sungguh luar biasa! Namun Yesus yang mengenal setiap orang apa adanya menegaskan: "berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga". Ternyata berkat anugerah Allah, Petrus dapat mengatakan sesuatu yang indah dan benar, sebab memang 'tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa', dan sebaliknya 'tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak'. Petrus adalah salah satu 'orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya' (Mat 11: 27).

Mengenal Tuhan dengan tepat dan benar hanya karunia Allah! Kita orang hanya bisa berusaha dan berusaha. Kiranya juga menjadi intensi kita dalam setiap doa-doa kita adalah agar kita dapat semakin hari semakin mengenal Kristus Tuhan dan tinggal bersamaNya. Kita semua diundang datang kepadaNya, 'marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat', dan bukan hanya Petrus. Kita harus gunakan kesempatan ini dengan baik!

"Aku pun berkata kepadamu: engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga". Suatu anugerah indah yang diberikan kepada Petrus; dan Gereja melihat 'kunci' itu juga sebagai anugerah yang diberikan kepada semua orang yang ambil bagian secara khusus dalam karya penggembalaan, yakni rahmat dalam Sakramen Imamat. Dan anugerah luhur dan mulia sebagai 'jemaatNya' juga dilimpahkan kepada semua orang yang memberikan diri sebagai batu-batu yang hidup yang membiarkan dirinya disusun sebagai bangunan rohani (1Pet 2: 5).

Apa yang dapat kita buat?

Bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan yang berbelaskasih, karena Dia melimpahkan rahmat dan berkatNya melalui dua orang besar, mantan pendosa klas kakap! Bagaimana mungkin, kita tidak kenal Petrus yang selalu mengalami pasang surut dalam mengikuti sang Gurunya, dan bahkan dengan terang-terangan ia pernah menyangkal bahwa dia seorang dari muridNya, 'aku tidak mengenal Dia'; demikian juga Paulus, pengejar Kristus! Ia membunuh dan menceraiberaikan para muridNya.

Liturgy memang belum pernah menjelaskan secara gamblang mengapa kedua tokoh besar yang temperamental ini disatukan perayaannya. Masing-masing tokoh ini juga dirayakan dalam kesempatan liturgy lainnya; namun kiranya untuk sementara bisa kita sintesekan karya mereka berdua yakni bahwa karya pewartaan,kerasulan/apostolis (karya paulus) harus selalu dalam rangkulan GerejaNya yang satu, kudus dan katolik (karya petrus), dan memang itulah yang kita imani dan selalu kita doakan sebagai doa syahadat kita bersama.

Kiranya ucapan syukur Paulus ini juga kelak menjadi ucapan syukur kita ketika kita harus berani berkata selesai dan berserah diri setelah melakukan suatu perjuangan hidup dalam mengabdi Dia. Paulus berkata: "aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya".

Ya Tuhan Yesus, Engkau mengajak Petrus dan Paulus berkarya sebagaimana yang Engkau kehendaki. Gaya dan penampilan mereka Engkau pakai dalam karya pewartaan. Ini semua menandakan kepada kami bahwa Engkau sungguh menghargai dan menghormati keunikan kami masing-masing, Engkau tidak mengabaikan keluhuran ciptaanMu yang luhur dan mulia itu; semoga dalam karya pelayanan, kami pun berani mengakui dan menerima keberadaan sesame kami dalam berperan dan berkarya. Yesus, semangatilah dan hiburlah juga saudara-saudari kami yang berkarya dalam bidang missioner di daerah-daerah terpencil, semoga mereka bersukacita selalu, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening