Selasa Masa Biasa XI, 15 Juni 2010

1Raj 21: 17-29  +  Mzm 51  +  Mat 5: 43-48

 

'Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil'. Inilah yang dinyatakan Yesus kemarin dalam InjilNya.

Hari ini Yesus menambahkan: "Aku berkata kepadamu: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu". Yesus memberi perintah baru, dan bukan sebagaimana yang pernah tertulis dalam Perjanjian Lama: "kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu".  Yesus sama sekali tidak bermaksud meniadakan Hukum Taurat, Ia mau menggenapi dan menyempurnakan! Yesus mengundang semua orang supaya tidak hanya berkutat seputar dirinya sendiri, Yesus mengajak setiap orang untuk meniru sang Kebaikan tertinggi. Bila kamu mengasihi dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kamu, "kamu akan menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar". Sikap Allah hendaknya menjadi sikap kita semua orang.

"Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?". Pengenalan akan Allah harus membawa makna bagi hidup. Orang akan menertawakan kita, bila hidup kita sama seperti mereka. Berlelah-lelah diri berjalan mengikuti Kristus, tetapi tidak mau mengikuti pola kehidupanNya, adalah kesia-siaan belaka. Percaya kepada Kristus harus mendapatkan sesuatu dalam transformasi diri, semakin hari hendaknya semakin baik.

"Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" tegas Yesus.

Gambaran Tuhan yang murah hati dan Pengampun memang sudah lama tampak dalam Perjanjian Lama, namun gambaran itu semakin disempurnakan oleh Yesus dengan kehadiranNya. "Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya; barulah dalam zaman anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya" adalah penyatan Tuhan yang penuh kasih. Namun mengapa Ia masih menahan denda dan hukuman kepada keturunannya? Bukankah anak-anak mereka tidak bersalah, mengapa harus menanggung dosa dan kesalahan leluhur mereka? Itulah gambaran Perjanjian Lama!

Kiranya pemahaman pohon keluarga yang berlatarbelakang pada sikap Allah yang pendedam dan suka menghukum pun harus dikikis habis, karena banyak membebani orang, terlebih mereka yang berkesusahan dan sakit. Kunjungan dan kehadiran kita  ke tengah-tengah orang sakit adalah menghibur dan meneguhkan mereka, dan bukannya menakut-nakuti mereka, apalagi menambahi beban mereka! Allah itu Maha Pengampun, Ia tidak memperhitungkan segala dosa dan keselahan kita, 'pergilah, Akupun tidak menghukum engkau, dan jangan berbuat dosa lagi'.

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami hidup sempurna seperti Engkau. Kami ini sering bangga menyebut diri sebagai putera-puteri Allah, tetapi berat kali untuk memberi salam dan melempar senyum damai terhadap orang lain. Yesus, lembutkanlah hati dan budi kami selalu, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening