Selasa Masa Biasa XII, 22 Juni 2010

2Raj 19: 9-11.14-21.31-36  +  Mzm 48  +  Mat 7: 6.12-14

 

"Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu". Apakah secara literer mempunyai arti kiasan tersendiri pernyataan ini? Saya tidak mampu mempelajarinya. Ini kelemahan saya. Namun yang jelas pernyataan ini kiranya mengajak agar:  hendaknya bertindak bijak dalam hidup ini, mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang, tidak bertindak bodoh dan ceroboh, semaunya sendiri. Semuanya ini memang perlu pelatihan semenjak muda, berpikir bijak dan berwawasan luas mengkondisikan seseorang untuk selalu bertindak bijaksana dan cerdik dalam kehidupan ini.

Bertindak bijak mengandaikan seseorang beroleh selamat dan tidak dirugikan oleh orang lain. Kita harus berani mendahului bertindak baik dan benar agar orang lain juga bertindak demikian terhadap kita. Karena itu, "segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi". Taurat memang lebih membangun komunikasi yang akrab dan baik antar sesame pengikutnya, Taurat amat lemah dalam menghantar umat Israel berhadapan dengan Tuhan. Hokum  Taurat mencatat agar 'mata ganti mata, gigi ganti gigi' sehingga orang tidak bertindak semena-mena terhadap sesamanya.

Itulah hokum Taurat!

Apakah kita akan mengikuti hokum Taurat sepenuhnya? Yesus pernah mengingatkan: 'Aku berkata kepadamu: jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga' (Mat 5: 20).  Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudarimu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?

Yesus menuntut agar kita para muridNya untuk bertindak lebih dari yang lain; dan itu harus diperjuangkan dan penuh tantangan. Perlunya usaha yang tak kunjung henti itu Yesus ungkapkan dengan mengatakan: "masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya".

Melalui penyataan ini Yesus menegaskan bahwa barangsiapa memasuki pintu yang kecil dan sempit itu akan beroleh keselamatan, berbeda dengan pintu yang luas dan lebar yang mengarahkan banyak orang kepada kebinasaan. Memasuki pintu sempit itu berarti melakukan kehendak Dia yang menyelamatkan, walau harus diakui tidak sedikit orang tidak memilih dan menyenanginya, karena memang tidak memberi kepuasan diri, malahan orang ditantang untuk berani memanggul semuanya itu dengan sepenuh hati.

Kapan itu harus dilaksanakan?

Sekarang ini! Tidak ada yang terlambat. Ada kemauan maka Tuhan akan memperhatikan. Raja Hizkia yang mau kembali kepada Tuhan Allah yang membebaskan mereka dari Mesir beroleh perlindungan dan keselamatan bagi bangsanya. Israel memang telah berbalik dari Tuhan, dan bahkan menolak nabi-nabi yang diutusNya, namun kini raja beserta rakyatnya kembali berbalik kepada Tuhan Allah, dan semuanya itu mendatangkan keselamatan. Itulah yang diceritakan tadi dalam bacaan pertama.

Ya Tuhan Yesus, hanya dalam hokum cintakaihMu kami beroleh keselamatan, dan bukan dari hokum Taurat. Maka kami mohon kepadaMu ya Yesus, agar kami semakin berani berbagi kasih dengan sesame kami sebagaimana Engkau sendiri telah menyerahkan nyawa demi sahabat-sahabatMu. Yesus, berkatilah kami semua, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening