Senin Masa Biasa XII, 21 Juni 2010

2Raj 17: 5-8.13-18  +  Mzm 60  +  Mat 7: 1-5

 

Ingin diperhatikan, ingin dihormati dan disayang adalah kecenderungan insane dalam diri setiap orang; dan dari sinilah juga lahir keinginan untuk selalu menang dan unggul daripada yang lain. Apalagi kaum Adam teman-teman saya, kecenderungan ini sangat terasa dan tampak kuat: lihat aja Sok Paling Kuasa Vs Realitas,  Kompas Minggu 20 Juni, hal 18. Mencari kesalahan dan kelemahan orang lain adalah ungkapan nyata keinginan kodrati setiap orang untuk unggul daripada yang lain dan merasa dirinya benar. Kekurangan diri dalam mengendalikan aneka kecenderungan ini akan merusak komunikasi dan persahabatan dalam hidup bersama, terlebih dalam keluarga.

Berkat rahmat pembaptisan kita 'telah mengenakan Kristus. Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kami semua adalah satu di dalam Kristus Yesus'. Keindahan persaudaraan ini dapat luntur dan bahkan rusak, bila ada individu-individu yang kurang mampu dalam mengendalikan diri dari aneka kecenderungan tadi. Semua bangkit berdiri, dan masing-masing saling menunjuk satu sama lain. Di mana kasih komunitas yang mengundang seorang akan yang lain untuk merasa diterima, dihormati, dikagumi dan mendapatkan sapaan, bahkan nasehat sebagai saudara. So when I fell at home?

Yesus menasehatkan: "jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi". Sebab "mengapakah engkau mudah kali melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?  Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu".

Dalam hidup bersama, setiap orang harus berani ditegur dan menegur demi kedewasaan diri, tetapi bukan untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Setiap orang memang mempunyai keterbatasan dan kelemahan, dan semua itu memang harus diintegrasikan, tetapi kiranya kita tidak mencari-cari kelemahan sesame kita untuk merobohkan dan mencampakkannya. Cinta itu menutup segala sesuatu dan menerima apa adanya. Penghakiman harus dihentikan,  "karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu", dan ini akan berjalan otomatis: bak ada gula semut.

'Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!' (Mzm 133). Betapa mulianya bila setiap orang berebut berkata 'akulah yang harus pertama mengulurkan tanganku!  Sebab "bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu".

Persaudaraan itu sungguh indah dan mulia! Persaudaraan itu menaburkan damai dan keselamatan!  Mengapa? Karena itu memang kehendak Tuhan Yesus.

Bacaan pertama sekedar memberi referensi kepada kita: "dalam tahun kesembilan zaman Hosea maka raja Asyur merebut Samaria. Ia mengangkut orang-orang Israel ke Asyur ke dalam pembuangan dan menyuruh mereka tinggal di Halah, di tepi sungai Habor, yakni sungai negeri Gozan, dan di kota-kota orang Madai. Hal itu terjadi, karena orang Israel telah berdosa kepada TUHAN, Allah mereka, yang telah menuntun mereka dari tanah Mesir dari kekuasaan Firaun, raja Mesir, dan karena mereka telah menyembah allah lain, dan telah hidup menurut adat istiadat bangsa-bangsa yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel, dan menurut ketetapan yang telah dibuat raja-raja Israel.

TUHAN telah memperingatkan kepada orang Israel dan kepada orang Yehuda dengan perantaraan semua nabi dan semua tukang tilik: berbaliklah kamu dari pada jalan-jalanmu yang jahat itu dan tetaplah ikuti segala perintah dan ketetapan-Ku, sesuai dengan segala undang-undang yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu dan yang telah Kusampaikan kepada mereka dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, para nabi. Tetapi mereka tidak mau mendengarkan, melainkan mereka menegarkan tengkuknya seperti nenek moyangnya yang tidak percaya kepada TUHAN, Allah mereka".

Ya Tuhan Yesus, lembutkanlah hati kami untuk berani menerima orang lain apa adanya, dan terlebih lagi tanamkanlah kasihMu dalam-dalam di hati kami agar kami semakin terdorong untuk membangun persaudaraan yang Engkau harapkan mekar selalu, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening