Jumat, 16 Juli 2010

Hari Raya Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel

Zak 2: 10-13  +  Gal 4: 4-7  +  Mat 12: 46-50

 

"Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau" kata orang-orang yang mengikuti Yesus. Jawab Yesus kepada mereka: "siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?". Sudah lupakah Yesus kepada mereka semua? Tidak tahukah Yesus bahwa Dia dilahirkan dari keluarga keturunan Daud? Apakah jawaban itu terlontar karena sang ibuNya yang mencari, bukan Yosef ayahNya yang memang mempunyai kedudukan secara structural dalam masyarakat?

Boleh semua pertanyaan tadi kita lontarkan demikian. Namun kiranya Yesus tidak mau tenggelam dalam ikatan keluarga buatan manusia sebagai akibat dari hokum manusia yang 'kawin dan dikawinkan' sebab tidaklah demikian hidup pasca-kebangkitan; Yesus sendiri pernah mengingatkan: 'pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga' (Mat 22: 30). Yesus membuka ikatan itu dengan mengatakan: "siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku".

Yesus tidak meniadakan hokum perkawinan, dengan penyataanNya itu, Yesus mengajak orang melihat dan merasakan bahwa relasi dengan diriNya tidaklah terbatas pada ikatan suku, agama dan budaya; relasi dengan Yesus dan relasi dengan realitas keselamatan adalah keberanian seseorang untuk berkomunikasi dengan Dia sendiri dan dengan Bapa di surge yang mengutusNya datang ke tengah-tengah umatNya. Yesus datang untuk menjadikan semua orang menjadi milikNya sendiri, saudara dan saudariNya, anak-anak Bapa di surge. Paulus dalam suratnya tadi menegaskan: "Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: ya Abba, ya Bapa!".

Apakah 'ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia' itu termasuk orang-orang 'yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga'?  ya, karena memang keseharian mereka selalu bersama Yesus. Bahkan Maria, ibuNya secara khusus disebutkan tadi secara tidak langsung oleh Paulus dengan mengatakan: Ia dilahirkan 'dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat', yang memang tidak lain dan tidak bukan adalah Maria, ibuNya.

Orang-orang yang tinggal di gunung Karmel juga menjadikan Maria sebagai Pelindung bagi mereka dalam mengikuti Kristus, karena Maria telah banyak berpengalaman dalam mengikuti Dia. Mereka menyebut Saudara-saudara Santa Perawan Maria karena mereka sungguh-sungguh mau meneladan Maria dalam mengikuti Kristus. Maria mengikuti Kristus pertama-tama dengan sikap hatinya, dan memang dialah orang pertama kali yang membiarkan Yesus tinggal dalam hatinya. 'Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu' saat inilah Yesus lahir dan tinggal dalam hati Maria. Maria mengikuti Yesus dalam keseharian hidupnya sebagai tindak lanjut dan keberlangsungan dari sikap hatinya sendiri yang sudah menerima diriNya secara nyata.

Kiranya kita semua yang menggabungkan diri dalam persaudaraan dari gunung Karmel sebagai saudara dan saudari Maria ditantang untuk mempunyai hati seperti Maria dalam menanggapi kehendakNya. Ada banyak kehendak dan kemauan Tuhan yang tidak langsung kita pahami dan mengerti, baiklah kita seperti Maria bertanya kepadaNya: 'bagaimana hal itu mungkin terjadi?' (Luk 1: 34) dan 'menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya' (Luk 2: 19).

Maria dipanggil sebagai Bunda oleh para karmelit karena memang dia sebagai ibu atau bunda yang selalu mendoakan, mendampingi dan melindungi semua orang yang berani mengikuti Puteranya dan memohon bantuannya, dialah Bunda karena memang dia adalah orang yang paling berpengalaman dalam mengikuti Kristus, sang Putera Bapa di surge.

'Bahagia kuterikat pada Yahwe. Harapanku pada Allah Tuhanku' itulah ucapan syukur kami kepadaMu, ya Tuhan Yesus yang telah membuka ikatan-ikatan kekeluargaan, sebab hanya keterpautan seperti inilah yang mendatangkan keselamatan kepada kami. Ya Maria, doakanlah kami selalu, dalam menikmati kehadiran Puteramu di tengah-tengah kami, amin.

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening