Jumat Masa Biasa XVI, 23 Juli 2010

Yer 3: 14-17  +  Mzm 32  +  Mat 13: 18-23

 

Dalam Injil hari ini Yesus menjelaskan perumpamaanNya kemarin tentang taburan benih.

Pertama, tentang "benih yang ditaburkan di pinggir jalan, adalah orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu". Firman yang didengarnya itu tidak membekas sama sekali dalam diri seseorang, ia mendengar tapi kenyataannya ia tidak mendengarkan. Ada seseorang yang pergi dan ikut dalam suatu peribadatan, sabda dibacakan dan ia mendengarnya, tetapi ketika sampai di rumah ia tidak ingat lagi akan apa yang didengarnya tadi; apakah dia itu bagaikan tanah di pinggir jalan?

Kedua,  "benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad". Dia adalah seseorang yang tidak tahan dalam memanggul salib penderaan; dan tak jarang salib penderaan sekarang ini datang, bukan dari orang-orang yang jauh di sana, tetapi dari keluarga ataupun orang-orang di sekitar. Yesus tahu akan hal itu dan menyadarinya sungguh, malahan Ia menantang para muridNya, kataNya: 'Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya' (Mat 10: 34-36).

Ketiga, "yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah". Dunia dan isinya memang amat menarik dan menggetarkan! Iming-iming jabatan dan kedudukan dengan kursi yang empuk, ketenaran nama dan kemapanan hidup sosial menjadi daya tarik tersendiri untuk menghilangkan kekuatiran hidup, dan jika orang terperangkap lalu tenggelam di dalamnya, tak segan-segan Yesus mengingatkan 'lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah' (Mat 19: 24).

Keempat, dan "yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat". Bersyukurlah orang yang dapat menikmati keindahan firman yang ditaburkan kepadanya, sebab dia menjadi orang yang sungguh-sungguh dikuasai oleh Roh Allah; ia sudah menikmati keindahan dan keluhuran Kerajaan Surga yang hadir di tengah-tengah umatNya.

Itulah kenyataan hidup dari orang-orang yang mendengarkan firman Tuhan. Itulah kondisi riel dari setiap jaman, tetapi semuanya itu bukanlah kondisi akhir dari suatu perjalanan hidup. Injil mengajak kita untuk merefleksikan diri kita dengan jujur: kita ini masih masuk kategori tanah yang bagaimana? Kita harus berani mengakuiinya dengan jujur, sebab keberanian ini akan membawa kita untuk maju ke depan, sebab apa yang dikatakan Yesus harus kita lihat sebagai kondisi riel dalam perjalanan kita. Sebab sebagaimana kasih Allah yang mengatasi segala persoalan hidup manusia, demikianlah Allah mengundang dan mengundang semua orang untuk datang kepadaNya, mendekati Dia, dan berbalik serta berpaling kepadaNya.

Undangan Tuhan melalui nabi Yeremia dalam bacaan pertama tadi: "kembalilah, hai anak-anak yang murtad, demikianlah firman TUHAN, karena Aku telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Sion. Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian. Pada waktu itu Yerusalem akan disebut takhta TUHAN, dan segala bangsa akan berkumpul ke sana, demi nama TUHAN ke Yerusalem, dan mereka tidak lagi akan bertingkah langkah menurut kedegilan hatinya yang jahat".

Ya Yesus, InjilMu hari ini mengingatkan kami akan realitas kehidupan kami dalam menanggapi sabda keselamatanMu. Kiranya semuanya itu menggugah diri kami bagaimana kami menanggapi kehadiranMu dalam diri kami, karena Engkau sendiri memang selalu mengundang dan mengundang kami untuk mendekati Engkau. Yesus berkatilah kami selalu, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening