Jumat Masa Biasa XVII, 30 Juli 2010

Yer 26: 1-9  +  Mzm 69   +  Mat 13: 54-58

 

Ketika Yesus pulang kampong dan mengajar orang-orang di situ, mereka semua mendengarNya bangga dan berkata: "dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?". Mereka bangga karena memang Yesus tampil beda, penuh wibawa dan kuasa, padahal Dia ini sama dengan mereka, mereka tahu keseharian Dia kali lalu. "Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?".

Ternyata kebanggaan mereka berbalik, "mereka kecewa dan menolak Dia". Kiranya penolakan mereka itu diakibatkan karena kecemburuan hati. Mereka mengenal siapa Dia itu, mereka bahkan beranggapan dan mengukur orang lain sekampungnya itu harus sama-sama dan sederajat dengan mereka; namun mengapa si Yesus, Anak tukang kayu ini melebihi mereka, kemapuanNya mengatasi mereka. Ini tidak masuk akal, dan ini sulit diterima. Ia tidak boleh tinggal di sini!

Tegas Yesus: "seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya".

"Karena penolakan dan ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ". Suatu resiko penolakan terhadap kehadiranNya, Ia hanya mengadakan sedikit mukjizat di kampong halamanNya.

Penolakan akan kehadiranNya memang sepertinya tidak mengalami perubahan semenjak Perjanjian Lama. Kalau Yesus sekarang ini menapakkan belaskasihNya walau mengalami perlawanan, tidaklah demikian pada jaman para nabiNya. Penolakan akan kehadiranNya berarti petaka bagi mereka!

Ditegaskan dalam bacaan pertama tadi: "beginilah firman TUHAN: jika kamu tidak mau mendengarkan Aku, tidak mau mengikuti Taurat-Ku yang telah Kubentangkan di hadapanmu, dan tidak mau mendengarkan perkataan hamba-hamba-Ku, para nabi, yang terus-menerus Kuutus kepadamu, -- tetapi kamu tidak mau mendengarkan -- maka Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo, dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi".

Bagaimana penolakan akan kehadiranNya di jaman kita sekarang ini?

Tidak tepat kita menilai orang-orang jaman ini, karena memang keterbatasan kita untuk memandang sesame kita, apalagi pandangan kita amatlah subyektif, kita amat lemah orang lain apa adanya. Kiranya pertanyaan tadi kita kenakan pada diri kita masing-masing: 'bagaimana, adakah penolakan akan kehadiranNya dalam diri kita di jaman sekarang ini?'. Penolakan tentunya tidaklah terjadi dalam diri kita, sangatlah kecil kemungkinan semuanya itu terjadi, namun sering terjadi pengesampingan, pengabaian dan penomerduaan kehadiranNya, walau kita tahu dan sadar bahwa Yang satu ini adalah 'mutiara yang indah dan berharga' yang kita renungkan kemarin.

Pengesampingan dimulai dalam keluarga, di mana keluarga seringkali membiarkan putera-puteri kecil kita ini hanya terarah pad televise dan dunia hiburan. Maximal anak-anak kita hanya diperkenalkan menonton televise hanyalah 2 jam per hari, dan sekarang yang terjadi adalah 6 jam, tigalipat dari perhitungan maximal, dan itupun masih banyak orang mempertanyakan 2 jam sehari! Pemfokusan pada dunia maya berarti pengaburan akan makna kehidupan dalam diri anak-anak kita, tentunya semakin menjauhkan mereka akan pengenalan terhadap Allah!

Sejauhmana kita memberi waktu, tenaga dan perhatian terhadap kehadiranNya?

Ya Yesus, jadikanlah orang-orang yang menaruh perhatian pada kehadiranMu, sebab memang hanya padaMulah kami beroleh keselamatan dan keindahan hidup ini.

Yesus, buatlah kami juga berani menerima orang lain apa adanya; kalau memang mereka lebih unggul daripada kami, buatlah kami berani mengakuinya, dan sebaliknya bila mereka mempunyai kekurangan dan keterbatasan, ajarilah kami untuk berani memakluminya.

Yesus, bantulah kami selalu


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening