Minggu Masa Biasa XV, 11 Juli 2010

Ul 30: 10-14  +  Kol 1: 15-20  +  Luk 10: 25-37

 

Seorang ahli Taurat mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?". Kenapa dia mencobai Yesus? Pertanyaan ahli Taurat itu pasti dilatarbelakangi oleh anggapan banyak orang bahwa Yesus itu adalah orang yang hebat, Dia seorang Guru, Dia orang bijak dan pandai

Yesus tahu benar maksud mereka, Ia tahu bahwa mereka mencobai diriNya, maka Ia mengembalikan pertanyaan itu kepada mereka sendiri, kataNya: "apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?". Jawab orang itu: "kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri".

Jawaban Yesus paling tidak sudah sesuai dengan keinginan dan harapan mereka para ahli Taurat. Ternyata Yesus tahu dan menghormati hokum Taurat, Dia tidak mengajarkan sesuatu yang baru yang berlawanan dengan hokum Taurat. Yesus ternyata paham betul akan tradisi dan adat istiadat Israel yang berlangsung saat itu, karena memang Dia 'datang bukan untuk meniadakan hokum Taurat, melainkan menggenapinya'. Jawaban Yesus sudah sesuai dengan keinginan mereka para ahli Taurat, sebab yang akan terjadinya bila Yesus memberi jawaban di luar hokum Taurat dan menyatakan adanya hokum lain dalam mendapatkan hidup kekal? Mereka pasti akan melawan secara frontal pada saat itu juga.

Dan setiap ahli Taurat pasti tahu akan semua itu, karena memang mereka menelaah dan mempelajarinya. Mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi sesame seperti diri sendiri merupakan 'hukum terutama dalam hukum Taurat' dan malahan menjadi inti atau ringkasan dari 'seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi' (Mat 22: 36-40). Dan lebih dari itu, setiap orang yang sungguh-sungguh setia mendengarkan suara dan kehendak Tuhan, ia pasti telah tahu benar akan hokum dan kehendakNya, sebab sebagaimana kita menyebutnya sebagai kodrat sosial seorang manusia ciptaan Tuhan, maka kita dapat mengatakan bahwa semuanya itu telah diketahui setiap orang semenjak masa kecilnya, sebab "firman itu sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan". Allah telah memperkenalkannya menanamkan sabdaNya dalam hati setiap orang semenjak semula.

Yesus membenarkan ahli Taurat itu: "jawabmu itu benar", kataNya: "perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup". Ini berarti seseorang akan beroleh dan menikmati hidup kekal hanya dengan 'mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap kekuatan dan dengan segenap akal budi, dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri'.

Dalam semangat ekologis, mengapa perhatian terhadap alam semesta dan ciptaan lainnya diabaikan dalam mengejar kehidupan kekal? Apalah alam semesta tidak masuk dalam karya penyelamatan dan sengaja memang tidak dilibatkan? Apakah seorang perusak hutan bisa menikmati kehidupan kekal, ia memang seorang yang pendoa dan berjiwa sosial tinggi? Bagaimana dengan orang-orang yang terjun dalam bidang politik, ekonomi dan ilmu pengetahuan dan teknologi, apakah bidang-bidang kehidupan ini tidak menghalangi seseorang menikmati kehidupan kekal?

Alam semesta dan isinya juga bisa menghalangi seseorang masuk dalam Kerajaan Surga! Namun bukan mereka yang bersalah, alam semesta dan isinya itu baik dan indah adanya!  Orang-orang yang tidak bisa mengambil jarak terhadap alam semesta dan isinya, demikian juga dalam keseharian hidupnya, baik  bidang politik, ekonomi dan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan bahkan tenggelam di dalamnya,  akan terhalang menikmati kebahagian kekal, sebab sang Empunya kehidupan tidak menjadi miliknya yang utama, Dia bukan menjadi harta milik hidupnya. Yesus pernah mengingatkan seorang muda yang kaya yang tenggelam dalam harta kekayaannya, dengan mengatakan, tetapi kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah" (Mat 19).

"Siapakah sesamaku manusia itu?" tanya ahli Taurat itu untuk membenarkan dan membela dirinya, yang sekaligus menunjukkan bahwa hatinya sungguh-sungguh telah buta sehingga tidak mampu melihat orang lain sesamanya. Dia sepertinya sudah tidak paham lagi siapakah sesamanya manusia.

Dalam perumpamaan yang diuraikanNya sebenarnya Yesus tidak menjawab pertanyaan ahli Taurat itu, karena memang setiap hari kita dapat menemukan dan berjumpa dengan sesame, di mana-mana dan kapan saja kita bisa bertemu dengan orang lain; mata inderawi memang pasti melihatnya, tetapi hanya mata hati yang dapat melihat sesame dengan baik, dan bahkan menyapanya, karena itu ahli Taurat sudah lupa siapakah sesamanya itu. Dalam perumpamaan itu, Yesus malahan menunjukkan dan meminta agar kita berani menjadi sesame yang baik yang tidak berpangku tangan dan berdiam diri, menjadi sahabat bagi orang lain, menjadi saudara yang selalu siap membela, dan juga bukan seperti seorang 'imam dan Lewi' yang mapan dan terpandang hidupnya, tetapi menjadi seperti orang Samaria yang 'tergeraklah hatinya oleh belas kasihan'.

Sekarang ini, banyak orang yang 'jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati', sehingga mereka itu sampai sekarang harus berbaring karena sakit, ada yang tidak mampu lagi bekerja, ada yang tidak mampu belajar di sekolah, ada juga mereka yang diabaikan dan tidak mendapatkan perhatian dari tetangga, bahkan saudara-saudarinya sekandung, ada yang sampai tertawan, ada yang tidak mau mengenal Tuhan lagi, ada yang diremehkan karena alasan gender  ataupun usia, suku dan agama.

Karena banyaknya mereka, kemungkinan kita berjumpa dengan mereka akan berbeda satu dengan yang lain. Yesus mengajak kita menjadi sesame atau sahabat yang rela membuka tangan dan melempar senyum bagi mereka. 'Apa yang engkau lakukan untuk saudaraKu yang paling hina ini, engkau lakukan juga untuk Aku'.

Berdasarkan kemauan kita untuk menikmati kehidupan kekal, sejauhmana kita sudah  mengasihi Tuhan, Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap kekuatan dan dengan segenap akal budi? Tentunya tidak sebatas pada aturan-aturan liturgis melulu yang berpusat pada altar; penjabaran dan pengkonkritan aturan liturgy dalam merayakan ibadat dan sudah mengalir ke luar dari gereja di situlah baru menjadi tanda nyata bahwa kita pun telah mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Seorang santa, Maria Magdalena de Pazzi menegaskan kepada kita bahwa 'tak seorangpun dengan mudah memuaskan dahaga kontemplasi akan Kristus tanpa berusaha memuaskan rasa hausNya akan jiwa-jiwa yang harus ditebus melalui persatuan yang harmonis dari doa dan karya pelayanan'. Setiap orang diundang untuk berani melayani dan melayani saudara-saudari Kristus, bukan hanya dengan doa tetapi juga dengan karya, bukan hanya dengan mengasihi Tuhan, Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap kekuatan dan dengan segenap akal budi, tetapi juga dengan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Setiap orang diundang untuk 'memuaskan rasa haus Allah akan jiwa-jiwa yang harus ditebus', kita diminta mencari dan mencari, melayani dan melayani, memperhatikan dan memperhatikan semua orang yang kita jumpai, karena memang Allah Tuhan kita Yesus Kristus merindukan dan menghendaki kita semua dan mereka semua, yakni seluruh umat manusia beroleh selamat.

Ya Yesus, perteguhlah kerinduan dan keinginan kami untuk memperoleh hidup yang kekal, dan ajarilah kami untuk berani mengusahakan dan mendapatkannya dengan mengasihi Engkau dengan segenap hati dan segenap jiwa dan melayani sesame kami seperti kami sendiri. Yesus, berkatilah kami selalu, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening