Minggu Masa Biasa XV, 18 Juli 2010

Ke 18: 1-10  +  Kol 1: 24-28  +  Luk 10: 38-42

 

"Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku". Itulah protes Marta terhadap Yesus, yang memang membiarkan Marta sibuk seorang diri melayani, sedangkan "Maria ini duduk manis dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya". Padahal seorang perempuan yang baik adalah seorang parhobas, kata orang Sidikalang, Sumatera Utara sana, karena memang seorang perempuan harus menjadi seorang nyonya rumah yang baik dan siap melayani setiap tamu yang datang; ia harus menyediakan makanan ringan dan minuman minimal, bila ada tamu berkunjung, dan jauh-jauh sebelumnya kebersihan rumah harus tetap terjaga dan tertata rapi. Itulah tugas seorang perempuan!

Yesus sendiri membiarkan Maria duduk di sampingNya, bahkan Ia menyampaikan ajaranNya. Ini adalah sebuah tindakan yang tabu; yang namanya murid itu harus laki-laki, dan seorang guru boleh mempunyai murid laki-laki, perempuan tidak diperkenankan,  perempuan hanya boleh belajar tentang Kitab Suci secara autodidak.  Murid itu biasanya laki-laki, tidak ada murid perempuan. Kaum perempuan itu adalah parhobas. Itulah realita di jaman Yesus, dan bahkan jaman-jaman Perjanjian Lama.

"Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara" jawab Yesus. Ia menangkap jiwa Marta yang sibuk dan gelisah dengan pekerjaannya. Ia kuatir akan pekerjaannya nanti tidak selesai, atau kurang sempurna, karena semuanya itu harus dikerjakan seorang diri, ia kuatir tidak bisa menjadi seorang parhobas na burju, nyonya rumah yang baik. Kekuatiran memang semakin membuka lebarnya sebah persoalan dan tidak membuat jiwa tenang!

"Hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya" sambung Yesus.  Apa itu?  Mendengarkan Dia!

Untuk mengikuti Yesus, untuk menjadi muridNya yang baik, untuk mengetahui apa yang menjadi kehendak Dia sang Guru adalah dengan mendengarkan Dia. Modal awal, setelah percaya kepadaNya, sebelum melangkahkan kaki ke depan adalah berani mendengarkan Yesus. Sebab bagaimana kita dapat mengetahui apa yang berkenan kepadaNya, apa yang harus kita lakukan, kalau kita tidak mau mendengarkan Dia dulu berbicara dan meminta kita. Maksud dan perbuatan baik kita pribadi tidak selalu sesuai dengan kemauan orang lain sesame kita, apalagi dengan kehendak Dia. Seseorang dapat melayani dengan baik, terlebih yang berkenan kepadaNya, kalau dia berani terlebih dahulu mendengarkan sabda dan kehendakNya!

Paulus dalam bacaan kedua menegaskan: "aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu". Ia berkarya setelah mendengarkan kehendak Allah, ia berkarya bukan atas kemauannya sendiri. Demikian juga Yesus Kristus, yang hanya melakukan segala sesuatu hanya sesuai dengan kehendak Bapa, 'Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku' (Yoh 5: 30).

Melayani itu baik, dan Yesus bukannya tidak setuju dengan pelayanan kasih yang dilakukan Marta; dalam menjumpai dan bertemu Dia, Yesus hanya meminta setiap orang untuk berani mendengarkan dan mendengarkan. Mendengarkan Yesus itu lebih penting dan berkenan kepadaNya daripada sibuk melayani Dia. Kesibukan seperti yang dilakukan Marta memang dapat dioper ke orang lain, dapat juga diwakilkan ke teman yanag lain, bila kita berhalangan, tetapi tidaklah demikian dengan mendengarkan Dia. Keberanian mendengarkan Yesus adalah 'bagian yang terbaik dari seseorang, yang tidak akan diambil dari padanya'.

Para tamu Abraham tadi yang datang mengunjungi mereka dan mengatakan: "sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki", bukannya sebagai rasa terima kasih mereka karena telah dijamu makan oleh keluarga, mereka datang karena hendak menyampaikan kabar sukacita dari Tuhan sendiri, tanpa dijamu makanan yang lezat, merekapun tetap akan menyampaikan kehendakNya. Kesibukan menjamu para Tamu tadi sebenarnya tidaklah bermanfaat, justru mendengarkan para Tamu itu, amatlah berguna bagi Abraham yang beroleh berkat daripadaNya.

Sekarang ini, kesibukan apa, seperti atau ala Marta, yang tidak disukai Yesus ketika kita menyambut dan menjumpai Dia? Saya kira Yesus akan memahami kesibukan kita, bukankah ini semua kita lakukan juga untuk Yesus? Ingat, Marta pun sibuk pada waktu itu melayani Dia, karena memang dia mempunyai hati pada Yesus, namun Yesus menegurnya juga.

Sibuk dengan aneka rumusan doa, sebagaimana dilakukan banyak orang sekarang ini yang dengan setia mendoakan aneka rumusan dosa secara bergantian? Jenis doa yang satu selesai, demikianlah dilanjutkan jenis doa lainnya, begitulah seterusnya.

Atau ucapan syukur ala pemungut cukai: 'Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku'? (Luk 18).

Kiranya juga kurang berkenan kepadaNya, seandainya kita sibuk dengan aneka puluhan permohonan yang kita ajukan dan kita panjatkan, minta ini dan minta itu, sehingga kita tidak sempat mendengarkan Dia.

Yesus yang baik, ajarilah kami untuk semakin hari semakin banyak mendengarkan sabdaMu, mendengarkan kehendak dan kemauanMu kepada kami, karena memang hanya kehendakMulah yang menyelamatkan kami. Yesus, pertegaslah kehendakMu kepada kami, dan berkatilah kami selalu, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening