Minggu Masa Biasa XVII, 25 Juli 2010

Kej 18: 20-32  +  Kol 2: 12-14  +  Luk 11: 1-11

 

Yesus adalah seorang Guru dan Dia adalah Pendoa! Para murid tahu benar kebiasaan Yesus yang rajin dan setia berdoa. Suatu kali ketika Yesus berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya".

Jawab Yesus: "apabila kamu berdoa, katakanlah:

Bapa, dikuduskanlah nama-Mu;

datanglah Kerajaan-Mu.

Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya

dan ampunilah kami akan dosa kami,

sebab kami pun mengampuni setiap orang

                                      yang bersalah kepada kami;

dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan".

Yesus mengajarkan doa Bapa Kami kepada para muridNya. Ia mengajak kita memanggil Tuhan sang Empunya kehidupan ini sebutan Bapa, suatu ungkapan keakraban dan kepemilikan, sebab memang kita telah diangkat Yesus menjadi saudara-saudariNya, putera-puteri Bapa di surge, 'sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan' (Mat 12: 50).

Dia yang adalah kudus, biarlah merajai dan menguasai kita putera-puteriNya, 'datanglah Kerajaan-Mu'. Kita memohon agar Bapa memperhatikan kebutuhan kita sehari-hari, melimpahkan belaskasih dan pengampunanNya yang semakin kita rasakan, bila kita membagikannya kepada sesame kita; dan kiranya Tuhan Bapa kita meneguhkan dan menjaga kita dari segala bentuk pencobaan yang akan mengalihkan perhatian dan kasih kita kepadaNya.

Sebagai pribadi, apakah Yesus juga mendoakan Bapa kami?

Pasti!  Walau tentunya bukan satu-satunya bentuk doa yang diugkapkanNya. Kita yakin demikian, karena memang Yesus melakukan dan menghayati apa yang Dia ajarkan, Yesus tidak berteori atau berpendapat, mengemukakan ide dan gagasan, Ia mengajarkan kebenaran dan melakukannya, sebab 'Dia selalu tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya' (2Tim 2: 13). 

Mendoakan Bapa Kami selain sebagai doa pribadi, juga kita mewakili umat, sebab 'bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku' (Yoh 17: 20). Yesus selalu mendoakan semua orang yang dicintaiNya.

Berdoa itu sulit, kata sebagian orang; sebagian lain mengatakan berdoa itu gampang. Mana yang benar?  Kedua-duanya benar! 

Injil hari ini menampilkan dua sikap seseorang dalam berdoa. Sikap pertama adalah berdoa dengan penuh keyakinan, ia sungguh-sungguh meminta dan meminta, yang mana permintaannya itu sebagai suatu pertangunganjawab. Yesus menggambarkannya dengan permintaan seseorang kepada temannya di malam hari, ia meminta sepotong roti kepada temannya karena ada seseorang tamu datang kepadanya dan ia tidak mempunyai sesuatu untuk dihidangkannya. Ia meminta dan meminta, temannya itu "tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya".

Kedua, berdoa dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan Bapa di surge itu sungguh-sungguh Mahabaik. Yesus membandingkan dengan pengalaman keseharian, kataNya: "seorang bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking?". Orangtua akan selalu memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya; seorang ayah atau ibu akan berani bekerja keras, membanting tulang, dan siap makan setiap hari hanya dengan sambal terasi, agar anaknya dapat makan setiap hari dan anak-anaknya dapat bersekolah. "Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga!".

"Karena itu Aku berkata kepadamu", tegas Yesus: "mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan".

Bagaimana dengan doa-doa kita?

Apakah doa-doa kita membuat kita jengkel dan kecewa? Lucu pertanyaan ini memang, tapi itulah kenyataan yang sering timbul. Doa seharusnya membawa ketenangan jiwa dan batin, doa mengantar seseorang kepada kehadiran Tuhan, doa menghantar seseorang masuk dalam pengalaman Allah, doa seharusnya membuat seseorang semakin yakin bahwa Allah itu baik dan penuh belaskasih, dan semakin berani merunduk di hadapanNya.  Selama doa, kita bermain paksa dan kekerasan terhadap Tuhan, gejolak jiwa akan semakin meradang, kekecewaan dan kegelisahan semakin berkecamuk dalam jiwa.

Doa itu menunjukkan siapakah kita itu sebenarnya.

Doa membutuhkan perjuangan! Pengalaman Abraham dalam bacaan pertama tadi sungguh-sungguh menunjukkan siapakah dia Abraham itu sebenarnya. Abraham adalah sosok pribadi yang benar-benar membutuhkan belaskasih Allah; dia yakin bahwa Allah itu penuh belaskasih dan murahhati, dan ia menaruh empati kepada sesamanya yang sudah dinyatakan oleh Tuhan Allah sebagai orang-orang baik yang harus diselamatkan dan orang-orang jahat yang mengalami kebinasaan, maka dengan berani ia bermohon dan bermohon. Ia berjuang karena ia yakin bahwa Allah itu penuh pengertian!

Yesus, buatlah kami setia berkanjang dalam doa agar kami semakin menikmati kehadiranMu yang menenangkan jiwa dan menyegarkan hati. Yesus hadirlah selalu dalam diri kami, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening