Rabu Masa Biasa XVI, 21 Juli 2010

Yer 4: 4-10  +  Mzm 71  +  Mat 13: 1-9

 

Dalam rumah ibadat Yesus mengajar banyak orang. Mereka berdesak-desakan, sehingga orang yang datang lambat harus puas berdiri di luar, termasuk ibu dan saudara-saudaraNya. Namun syukurlah ada orang-orang yang mengingatkan bahwa keluarga mau menjumpaiNya. 'Siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku', kata Yesus. Sebuah penyataan yang sungguh-sungguh menggugah banyak orang pada waktu itu, bahwasannya semua orang diberi kesempatan menyatukan diri denganNya, dan bahkan disebut sebagai saudara-saudariNya bila mereka melakukan kehendak Tuhan Bapa di surge. Suatu undangan yang menyenangkan dan patut disyukuri, suatu kesempatan untuk ambilbagian di dalamNya.

Yesus memberi harapan, dan membuka kemungkinan setiap orang bersatu dan menikmati hidup bersama denganNya.

Gayung bersambut!  Setelah mengajar, "keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau", entah apa yang hendak dilakukan, mungkin ingin beristirahat menghirup nafas sejenak di udara yang bebas; maklum sebelumnya tentu kepengapan udara amat tebal, karena banyak orang berkerumun di dalam rumah ibadat tadi. Kiranya tak seberapa lama ia duduk menarik nafas, tiba-tiba "datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai". Mereka tidak mau berpisah dengan Yesus, dan ingin terus mendengarkan pengajaranNya.

Kehausan akan ajaranNya membuat orang-orang terus mengikuti Dia untuk mendengarkan dan mendengarkanNya. Ia mengajar mereka semua dan memberikan sebuah perumpamaan tentang biji yang ditabur oleh seorang penabur; ada yang jatuh di pinggir jalan, ada yang di tanah yang berbatu-batu, ada pula yang di tanah yang penuh semak berduri dan juga ada di tanah yang subur. Hasilnya tentu berbeda satu dengan lainnya, jenis tanah amat menentukan tumbuhnya tanam-tanaman.

"Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" tegas Yesus mengingatkan mereka semua.

Mengapa Yesus mengungkapkan perumpamaan itu di hadapan orang-orang yang mengikutiNya? Sepertinya Yesus mengenal sungguh mereka semua. Mereka adalah orang-orang yang baru menyadari siapakah Yesus dan bagaimana isi pengajaranNya; mereka adalah orang-orang yang baru terpaut kepadaNya, namun sepertinya kualitas mereka berbeda satu dengan lainnya dalam menanggapi ajaranNya, mereka itu bagaikan tanah yang menerima taburan benih, ada tanah yang di pinggiran jalan, ada tanah yang berbatu-batu, ada tanah yang penuh semak berduri dan juga ada tanah yang subur.  Penyataan Yesus 'siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar' menantang mereka semua untuk berani menerima diri sendiri dan apa yang harus dilakukan dalam mengikutiNya, yang tentunya berbeda satu dengan lainnya.

Bagaimana dengan kita?  Termasuk jenis tanah yang bagaimana diri kita ini?

Tuhan Allah tahu dengan pasti siapakah kita ini, sabdaNya tadi: "sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau".

Lalu apa yang dapat kita buat? Aku hanyalah tanah yang berbatu-batu atau tanah yang penuh semak berduri; semuanya itu hanyalah kondisi awal, bukanlah akhir dari segala-galanya, kita masih diberi kesempatan untuk merangkak dan berjalan dan menatap masa depan. "Janganlah katakan: Aku ini masih muda", 'masih muda' adalah kondisi awal untuk beranjak maju. Bukankah Allah menciptakan segala-galanya baik adanya? "Sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau", sabda Tuhan.

Sebagaimana tanah pertanian sekarang yang bisa dibuat subur dan menghasilkan banyak buah, karena kesetiaan para petani mencangkul dan merawatnya, demikian pula kiranya tanah hidup kita ini dapat menghasilkan banyak buah, bila kita membiarkan diri diperhatikan dan dirawat oleh Allah, dicangkul dan dipupuk olehNya, biarlah Allah menjadikan diri kita sebagai tanah yang menghasilkan banyak buah.

"Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa" tegas Tuhan kepada Yeremia, demikian juga tentunya Yesus mempunyai tugas perutusan yang diberikan kepada kita; bukankah kita diundang untuk selalu berani berbagi dalam kasih? Berbagi kasih, mewartakan kehendak dan kemauanNya kiranya menjadi perutusan bagi semua orang yang percaya kepadaNya.

Ia telah mengutus kita, tentunya Dia tidak akan membiarkan kita sendirian. "Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN. Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu. Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam".

Ya Yesus, kami adalah orang-orang yang tertarik kepadaMu, karena memang kami merindukan keselamatan yang Engkau tawarkan kepada kami. Kami tertarik kepadaMu ya Yesus, tetapi dengan jujur kami akui tak jarang kami mengabaikan perhatian dan kasihMu kepada kami; tanah kehidupan kami mudah berubah-ubah mengikuti selera diri kami sendiri. Yesus, pakailah kami selalu dalam mewartakan kabar kasihMu, dan buatlah kami setia mengikuti pengolahan hidup agar kami menjadi tanah yang menghasilkan banyak  buah, "ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat".

Yesus, suburkanlah tanah kehidupan kami ini, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening