Sabtu Masa Biasa XIV, 10 Juli 2010

Yes 6: 1-8  +  Mzm 93  +  Mat 10: 24-33

 

"Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya" kata Yesus kepada para muridNya. Hal ini dikatakan berkaitan dengan resiko pewartaan yang akan dihadapi oleh mereka semua. Injil dalam tiga hari ini berturut-turut berbicara soal ini. Pertentangan dan perlawanan akan dihadapi oleh para muridNya, namun semuanya itu terjadi tidak akan sehebat atau seberat akan apa yang akan dialami oleh Guru dan Tuan mereka sendiri. 'Cukuplah bagi mereka menjadi sama seperti gurunya atau tuannya'. Kalau Yesus saja yang berkuasa atas kuasa kegelapan dan mampu mengusir kuasa kegelapan dan mendapatkan lecehan 'dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan' (Mat 9: 34), demikian juga mereka akan mendapatkan cemoohan seperti itu. "Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya".

"Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka" Yesus meneguhkan mereka para muridNya. Aniaya dan pembunuhan akan mereka hadapi, seperti Guru dan Tuan mereka, tetapi mereka diminta supaya tidak gentar tetapi tetap maju. Kalaupun tokh mereka akan dianiaya dan dibunuh, mereka, seperti dikatakan dalam budaya Jawa, hanya akan masuk dalam 'pesarean' (tempat tidur, makam) saja. Mereka hanya dibuat tidur oleh lawan-lawan mereka. Yesus pun pernah mengatakan, 'orang ini tidak mati, tetapi tidur' (Mat 9: 24). Mereka semua akan bangun bersama-sama Guru dan Tuan mereka yang memang berkuasa hidup atau mati seseorang. Sudah wajar dan layak, kalau kita semua 'takut terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka', Dialah Empunya kehidupan ini!

Karena itu, janganlah takut dan gentar, 'bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit'. Kalau burung pipit saja mendapatkan penghidupan daripadaNya, apalagi tentunya ciptaan 'yang serupa dengan gambarNya'.

Yesus mengutus dan memberi jaminan kepada mereka, demikian juga kepada kita semua para muridNya yang diundang ambil bagian dalam karya penyelamatanNya, bersaksi bahwa kita semua adalah orang-orang yang mengikuti Dia sang Guru dan Tuan atas kehidupan ini. Kesaksian hidup  adalah panggilan mendasar dari tugas perutusan kristiani, atau merupakan kewajiban yang 'harus ada dan dilakukan' oleh  setiap orang yang percaya kepadaNya. Yesus mengingatkan: "setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga".

Keberanian untuk mengatakan kebenaran ini memang terasa sungguh dalam kehidupan dewasa ini. Keberanian itu terasa luntur dan memudar bila dihadapkan dengan kebutuhan hidup sehari-hari, kemapanan sosio-ekonomi dan birokrasi dalam relaso sosial politik. Kebanggaan diri sebagai anggota komunitas gerejani enggan ditampakkan dalam kehidupan. Keberanian mengakui sebagai murid-muridNya dianggapnya sebagai membuka peluang untuk berdebat dan mencari-cari persoalan, lebih berdiam diri dan tidak berkata-kata apapun. Keamanan diri seperti yang dilakukan Petrus ketika seseorang bertanya kepadanya: 'bukankah engkau juga murid Orang itu?' banyak dilakukan orang; dan seperti Petrus juga tegas menjawab: 'bukan!' (Yoh 18: 17). Ketidakberanian untuk menjadi saksi-saksi yang mengenal Dia adalah suatu bentuk penyangkalan melawan hidup!

Ya Yesus, Engkau mengundang kami untuk berani berbagi kasih dengan semua orang. Engkau mengutus kami ikutserta mewartakan Injil Kerajaan Surga. Ingatkan dan perdengarkanlah suaraMu selalu di telinga kami: "siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?", dan juga teguhkanlah hati kami agar kami dengan siap sedia selalu berkata: "ini aku, utuslah aku!".

Yesus berilah kami selalu keberanian hidup! Amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening